Minggu, 01 November 2009

EMOTIONAL LEARNING



Membentuk Kepribadian Insan Kamil


Pendidikan adalah aktifitas yang memiliki peranan dominan dan urgen dalam proses perubahan prilaku manusia. “Pendidikan merupakan kekuatan inovatif yang dapat digunakan untuk proses perubahan lebih lanjut dalam masyarakat” (Djainuri, 2001 : 3) secara eksternal, dan sebagai penggerak transformasi nilai dalam membantu perkembangan kepribadian manusia untuk mewujudkan kesadaran diri secara internal. Pendidikan bukanlah dalam bingkai pengajaran yang hanya sekedar proses nukilan ilmu belaka, akan tetapi, pendidikan adalah suatu “proses penyiapan generasi muda untuk menjalankan kehidupan dan memenuhi tujuan hidupnya secara lebih efektif dan efesien”. Konsepsi ini memberikan pemahaman yang jelas bahwa pendidikan adalah suatu proses pembentukan kepribadian yang sempurna dalam menjalani kehidupan ini, sesuai pesan ilahiyah dan fitrah insaniyah (insan kamil) (Azyumardi Azra (1999 : 3)
Dewasa ini, Apa yang menjadi prinsip dasar dan idealitas pendidikan jauh dari harapan. Perkembangan teknologi yang begitu canggih sebagai wujud kemajuan ilmu dan pengetahuan justru tidak memberikan solusi terhadap perubahan kondisi masyarakat yang semakin jauh menyimpang. Pendidikan hanya sebatas proses transfer ilmu pengetahuan untuk mendapatkan nilai pendidikan dan melupakan pendidikan nilai. Hal inilah yang menyeret manusia hanya mengutamakan kecerdasan intelektualnya sementara kecerdasan emosional dan spiritualnya dilupakan.
Pendidikan yang hanya dibangun dengan kecerdasan intelektual dan melupakan kecerdasan lainnya telah membawa konsekuensi dalam kehidupan masyarakat. Manusia tumbuh dan berkembang laksana robot, berjalan dan bekerja tanpa perasaan. Bahkan ketika manusia semakin maju dalam dunia rasio dan intelektual, pada saat itu pulahlah manusia semakin jauh dari nilai-nilai dan hakekat kemanusiaan. Lantas di mana letak peran pendidikan yang tujuan utamanya melakukan perubahan tingkah laku ke arah yang baik dan positif??.
Krisis emosional telah melanda masyarakat, bagaikan wabah yang berjangkit secara sporadis di mana lembaga pendidikan sebagai satu satunya benteng pertahanan terakhir tidak dapat diandalkan lagi. Krisis emosional seperti kriminalitas, dekadensi akhlak bukan saja dialami orang dewasa, bahkan telah merambah dan meracuni kehidupan remaja hingga anak anak. Tidak mengagetkan ketika mendengar berita seorang murid sekolah dasar menembak kawannya di suatu sekolah dasar di Amerika. Berita tentang anak belasan tahun yang berbuat cabul melakukan tindakan kriminal, anak sekolah yang melakukan pesta narkoba telah menjadi berita harian di semua media pemberitaan.
Kenyataan ini menunjukkan adanya keterlupaan dan kekhilafan dalam setting pendidikan selama ini. Pendidikan di arahkan kepada aspek kognitif dan melupakan afektif dan psikomotoriknya. Sehingga output dan outcome pendidikan hanya mempunyai kecerdasan sepihak. Yaitu kecerdasan intelektual, sementara kepribadiannya sangat rapuh. Kecerdasan emosionalnya tidak berkembang ke arah positif. Hal inilah yang menyebabkan pendidikan jauh dari harapan yang mana diwujudkan sebagai washilah (jalan penghubung) yang menghantarkan manusia untuk memiliki kepribadian yang sempurna.
Kecerdasan emosional memiliki peran besar dalam kehidupan manusia. Manusia menentukan keputusan dan tindakan atas persetujuan emosionalnya. Bahkan perasaan adalah sumber kekuatan ampuh yang dimiliki setiap manusia. Setiap perasaan mempunyai nilai dan makna. Banyak orang berhasil dan sukses dalam kehidupannya bukan karena faktor kecerdasan akal atau karena beIQ tinggi, akan tetapi mampu membangun kecerdasan emosionalnya dengan baik.
Banyak yang berIQ tinggi tapi ternyata gagal dalam mencapai puncak prestasinya. Berapa banyak kaum terpelajar akhirnya masuk dalam perangkap kriminalitas. BerIQ tinggi tapi melakukan sesuatu yang tidak rasional. Ia terperosok dalam nafsu tak terkendali dan tidak mampu membangun dan membentuk kepribadiannya dengan mantap. Meskipun tidak dinafikan bahwa kehidupan tanpa nafsu bagaikan padang pasir netralitas yang datar dan membosankan, terkucil dari kebermaknaan hidup, akan tetapi kegagalan dalam pengendalian fungsi nafsu akan berakibat malapetaka bagi kepribadian itu sendiri.
Maka dalam tulisan ini, akan dibahas tentang hakakekat emosional dan kecerdasan emosional sebagai alternatif solution untuk memperbaiki paradigma pendidikan yang dianggap gagal dalam membentuk masyarakat yang benar-benar terdidik dan sempurna. Dan bahwa EQ sangat penting untuk dididik dan dikembangkan kepada setiap orang dalam mencapai kemantapan dan kesempurnaan hidup.

B. Kecerdasan Emosional dan Otak Emosional.
1. Makna Emosi dan Kecerdasan Emosional
Menurut Daniel Goleman, emosi adalah kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, keadaan mental yang meluap luap. Emosi merupakan suatu perasaan dan pikiran-pikiran khas, suatu keadaan sosiologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak (Goleman, 2001 : 411). Dari penjelasan ini emosi dapat diidentifikasi dengan beberapa sifat yang dimiliki antara lain;
1. Amarah.; seperti beringas, benci, jengkel, kesal, tersinggung, bermusuhan, kekerasan, dan kebencian.
2. Kesedihan; seperti pedih, sedih, muram, melangkolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa, dan depresi.
3. Rasa takut; seperti cemas, gugup, khawatir, waswas, waspada, dan ngeri.
4. Cinta; seperti penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, kasmaran, kasih, dan romantis.
5. Terkejut; seperti terkesiap, takjub, dan terpana.
6. Jengkel; hina, jijik, muak, benci, tidak suka.
7. Malu; seperti rasa salah, malu hati, kesal hati, sesal, hina, aib, dan hati yang hancur (Goleman, 2001 : 412).
Ketujuh hal di atas menjadi bagian dalam kehidupan setiap manusia, menjadi penyambung hidup bagi kesadaran dan kelangsungan diri yang menghubungkan manusia dengan dirinya sendiri, alam, dan dengan kosmos ( Segal, 2001 : 19). Siapa pun dan dari suku mana pun seseorang yang mengalami jenis emosi ini akan menampilkan ekspresi muka yang sama. Sehingga orang yang menguasai emosinya akan membimbing jalan hidupnya ke arah yang positif, membangun hubungan kasih yang romantis dan mencapai kesuksesan hidup. Sebalikya, orang yang tidak mampu menguasai emosinya akan terjebak dalam budak nafsu emosi sendiri
Ketidakmampuan mengontrol emosi akan mengantarkan kita dalam kehancuran. Ali Syariati seperti dikutip Ary Ginanjar, bahwa manusia yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan dan kehendak alam yang fitrah, mereka seperti berbaris di depan rumah perampok menunggu giliran untuk dirampok. Mereka mereka ini termasuk orang yang buta hati atau buta nurani atau memiliki kecerdasan emosional yang rendah (Ary Ginanjar, 2001 : xli).
Adapun kecerdasan emosional, Nasaruddun Umar (2002 : 5) mendefenisikan nya sebagai kemampuan untuk menjinakkan emosi dan mengarahkannya pada hal-hal yang lebih positif. Dengan kata lain bagaimana mengendalikan potensi-potensi emosi bisa disalurkan kepada yang baik dan tidak mengantarkan kepada kegagalan dan kehancuran sehingga mampu meraih kesuksesan dan kebahagiaan.
Kecerdasan emosional adalah kecerdasan hati nurani yang menentukan keputusan pikiran dan tindakan. Di dalam al Quran sendiiri Allah telah memberikan penggambaran adanya kecerdasan emosional dengan lafadz “qalbu, nafsun, fuad” seperti dalam firmanNya “Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibumu tidak mengetahui sesuatu, lalu Allah menciptakan kepadamu pendengaran, penglihatan dan menciptakan hati (sebagai media kecerdasan emosional)”.


2. Otak Emosional.
Otak manusia adalah satu satunya organ yang sangat berkembang sehingga ia dapat mempelajari dirinya sendiri. Pada dasarnya otak mempunyai tiga bagian dasar; otak reptil atau talamus, sistem limbik atau amigdala dan neokorteks. Ketiganya memiliki struktur saraf tertentu sehingga ia dapat berkembang pada waktu yang berbeda dalam sejarah evolusi manusia.
Yang pertama dalam perkembangan dan evolusi adalah otak reptil. Otak ini berperan sebagai motor sensor-pengetahuan tentang realitas fisik yang berasal dari panca indra. Di sekeliling otak reptil terdapat otak mamalia atau sistem limbik. Ia terletak di bagian tengah otak yang fungsinya bersifat emosional dan koknitif ; yaitu menyimpan perasaan, pengalaman, memori, kemampuan belajar, mengendalikan bioritme seperti pola tidur, haus, lapar, detak jantung, gairah biologis, metabolisme dan lain-lain. Adapun otak neokorteks terbungkus di sekitar bagian atas dan sisi-sisi sistem limbik. Bagian otak ini terletak kecerdasan. Sehingga otak inilah yang mengatur pesan-pesan yang diterima melalui penglihatan, pendengaran, dan sensasi tubuh. Neokorteks merupakan otak proses penalaran, berfikir secara intelektual, bahasa, motorik sadar dan lain-lain. (Bobbi DePorter, 2001 : 28). Akar otak reptil atau menurut istilah Goleman otak primitif. berperan mengatur fungsi-fungsi dasar kehidupan seperti bernafas dan metabolisme organ lain. Dari akar otak yang paling primitif ini terbentuk pusat emosi dan dari wilayah emosi berkembang otak berfikir atau neokorteks (Goleman, 2001 : 13).
Apa yang diungkapkan Bobbi dan Goleman sangat jelas bahwa ketiga otak ini memiliki tugas masing-masing dan bertanggung jawab sesuai tugas dan fungsinya. Ia memiliki jaringan sirkuit yang kuat antara satu dengan lainnya. Ketiga otak ini pulalah yang akan membentuk kepribadian manusia. Dapat dipahami pula bahwa otak pikir manusia ternyata mendapat dukungan dari emosi. Refleksi yang dilakukan neokorteks secara otomatis mendapat sinyal persetujuan dari amigdala.
Pada dasarnya Emosi memiliki dua tahapan; tahap dalam kesadaran dan tahap di luar kesadaran. Emosi yang masuk dalam kesadaran merupakan tanda terekamnya pesan ke dalam neokorteks sedangkan yang di luar kesadaran mempunyai pengaruh besar terhadap cerapan dan reaksi yang terjadi meskipun tidak mengetahui bagaimana emosi itu bereaksi (Goleman, 2001 : 75)
Dalam artian informasi yang diterima dari indra disamping diproses talamus menuju neokorteks, ada pesan-pesan dari indra manusia yang tercatat dalam struktur otak yang paling terlibat dalam memori emosi (amigdala), Sebelum pesan-pesan itu masuk ke dalam neokorteks (Segal, 2001 : 26). Ia bekerja di luar kesadaran. Temuan ini akhirnya membungkam image dan pemahaman selama ini bahwa jalur-jalur yang ditempuh oleh emosi atau amigdala melalui kebergantungan seluruhnya pada sinyal-sinyal dari neokorteks untuk merumuskan reaksi emosionalnya.
Amigdala sebagai otak emosi dapat memicu respon tindakan sebelum neokorteks memikirkannya. Pesan-pesan yang dikirim panca indra yang bersifat dharurat langsung memicu respon emosional sebelum pesan itu diolah dalam neokorteks. Meskipun informasi neokorteks lebih lengkap, tetapi proses pengolahannya lebih lamban (Goleman, 2001 : 24), sehingga amigdala sebagai otak yang menangani masalah-masalah emosi dapat bertindak sendiri terlepas dari neokorteks. Seperti bagan di bawah ini;
Talamus

Indra Neokorteks
Amigdala
Seorang gadis dengan spontanitas menangis tersedu sedu dengan linangan air mata ketika mendapat kabar kekasihnya telah beralih ke orang lain. Supporter tim Sinegal langsung berpelukan saat timnya menang. Kejadian-kejadian yang dialami baik gadis, dan supporter tersebut merupakan bentuk respon emosional dari amigdalanya sebelum informasi tersebut masuk dalam neokorteksnya.
Oleh sebab itulah, ketika otak emosional manusia mengalami kerusakan maka ia tidak akan mampu untuk mengambil keputusan dalam hidupnya. Meskipun otak rasionalnya masih normal dan sehat, mampu berbicara, berfikir, dan berprestasi dalam akademik, tapi tidak bisa mengambil keputusan yang tepat terhadap apa yang dipikirkannya. Ini berarti bahwa kecerdasan intelektual seseorang memiliki sinergi dengan kecerdasan emosional.

3. Metode Menumbuhkan EQ Dalam Diri
Secara rinci EQ memiliki kualitas kualitas yang terdiri dari; Empati, mengungkapkan dan memahami perasaan, mengendalikan amarah, kemandirian, kemampuan menyesuaikan diri, disukai, kemampuan memecahkan masalah orang antar pribadi, ketekunan, kesetiakawanan, keramahan, sikap hormat (L. E Shapiro, 2001 : 5). Untuk menentukan seseorang telah mengendalikan emosinya ke arah yang positif yaitu ketika mampu menguasai kualitas EQ di atas. Kualitas inilah yang harus ditumbuhkan dan dikembangkan dalam diri dengan baik.
Adapun metode menumbuhkan dan meningkatkannya, Jeanne Segal menyebutkan tiga langkah dan cara yang bisa ditempuh untuk meningkatkan kecerdasan emosioal (2001 : 36-37);
Langkah Pertama, merasakan perasaan tubuh kita. Langkah ini merupakan upaya mengenali segala emosi dalam diri sebagai bagian dari kejadian fisik. Merasa sedih dan duka sebagai tekanan berat di dada. Kemarahan akan terasa di kepala dan dada. Cinta merupakan sentuhan yang muncul dari bilik hati, takut sebagai perasaan mual di perut dan sebagainya. Ini berarti bahwa segala gejolak emosi adalah bagian dari kejadian fisik. Gejolak ini harus diantisipasi dan dikendalikan sehingga tidak kehilangan kendali.
Sebagai upaya pengendalian awal adalah mengingat kejadian-kejadian yang dialami dengan tetap mantap dan bertahan dalam perasaan itu sampai rasa sakitnya hilang. Langkah ini dapat dilakukan dengan latihan-latihan menguatkan otot emosioal seperti layaknya otot lainnya. Latihan ini akan membuat emosi terasa sehat sehingga dapat membaca dan mengenali perasaan diri dan perasaan orang lain.
Adapun latihan untuk menguatkan otot emosional yaitu dengan menciptakan suasana yang fresh, nyaman dan menyenangkan. Tidak dibebani pikiran, jauh dari rokok dan alkohol serta membangkitkan emosi dengan alunan musik. Setelah merasa santai, kembali melakukan penegangan dan mengencangkan dan kemudian melemaskan setiap bagian tubuh dari kaki sampai kepala hingga benar-benar lemas dan santai. Kosongkan benak dari pikiran yang tidak berkaitan, ambil napas dalam dalam, lepaskan pikiran bersama setiap embusan napas. Setelah selesai, pindahkan pusat perhatian pada daerah yang terasa sakit dan arahkan napas ke pusatnya. Jika dada yang sakit karena sedih, maka arahkan perhatian ke pusat dada hingga akhirnya perasaan terkuat. Perasaan yang mencuak tersebut ditahan dan dijinakkan dengan baik setelah selesai berlatih, regangkan badan dengan hentakan kaki atau jalan-jalan.
Langkah kedua, Menerima perasaan Emosi. Menerima perasaan emosi sangat penting bagi setiap orang. Ketika seseorang tidak dapat menerima emosinya sama saja tidak menerima dirinya sendiri dan akan menghilangkan kebijaksanaan untuk membuat keputusan tepat.
Penerimaan di sini bukan berarti kepasrahaan yang pasif, menerima hidup apa adanya, dan membiarkan terombang ambing oleh perasaan orang lain. Menerima perasaan berarti dengan senang hati merangkul setiap perasaan sebagai informasi saat perasaan itu muncul dan sebagai bagian penting dalam diri serta dapat menanggung emosi. Dengan menerima emosi ini berarti bahwa apa yang dirasakan dalam diri sama dengan orang lain. Ketika merasakan sakit pada diri, maka juga dapat merasakan sakit pada orang lain, dalam artian apa yang dirasakan dalam diri, juga dirasakan kepada orang lain.
Langkah ketiga, menggunakan emosi bersama dengan daya kesadaran atau dengan kata lain mengalami sepenuhnya setiap emosi dengan aktif. Kesadaran ini bertujuan untuk menerjemahkan perasaan ke dalam tindakan. Oleh karena itu, langkah ketiga ini peran pikiran sangat diperlukan sebagai tempat penyimpanan semua asosiasi respon kejadian-emosional yang dibuat. Pikiran berperan mengolah segala informasi kejadian emosional yang kemudian melahirkan suatu tindakan. Dengan demikian, memiliki daya kesadaran akan mempengaruhi sikap dan kepribadian seseorang. Ia akan menterjemahkan dan menanggapi kebutuhan orang lain tanpa harus mematikan kebutuhan diri sendiri.
Ketiga hal di atas merupakan langkah yang ditawarkan Jeanne Segal sebagai upaya meningkatkan dan melejitkan kepekaan dan kecerdasan emosional. Apa yang ditawarkannya berbentuk pencapaian tingkat kesadaran emosi diri. Pengetahuan yang mantap tentang perasaan saat menjalani hidup dan berinteraksi dengan orang lain merupakan kunci rahasia untuk membangun kepribadian yang sempurna dan memelihara hubungan yang harmonis dengan orang lain. Segala permasalahan yang terjadi akan dihadapinya dengan pengendalian diri bukan berlepas dari tanggung jawab. Hidup saling memahami antara satu dengan yang lain.

4. Antara EQ dan IQ
Kenyataan membuktikan bahwa IQ yang tinggi ternyata tidak mampu bahkan gagal memberikan jaminan kebahagiaan. Tidak mampu mencipta orang untuk memiliki komitmen, integritas, komfidens, kreatif, adil, dan bijaksana. Orang yang memposisikan IQ di atas segalanya dan melupakan EQ merupakan karikatur kaum intelektual, terampil di dunia pemikiran tetapi canggung di dunia kepribadiannya. Pemikiran pemikirannya sangat cemerlang tetapi melupakan makna perasaan sehingga membosankan. Tidak berlebihan ketika ada pertanyaan kapan orang pintar itu bodoh? Jawabannya adalah ketika ia tidak mampu mengontrol kehidupan emosionalnya dengan baik. IQ tidak sempurna tanpa keseimbangan emosional. Bagaimanapun perasaan sangat dibutuhkan untuk menentukan keputusan rasional.
Keputusan yang diambil seseorang tentang siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya, apa yang akan dimakan hari ini, ingin jadi/kerja apa setelah selesai studi di pascasarjana, bagaimana menentukan pilihan untuk calon suaminya merupakan keputusan-keputusan kerja EQ, di mana IQ tidak mampu melakukannya. Akal hanya memikirkan, memberi pertimbangan dan perasaanlah yang kemudian mengambil keputusan apa yang telah dipikirkan akal.
Orang berIQ tinggi tetapi beEQ rendah tak lebih seperti apa dialami Hilman yang akhirnya menjadi tukang reparasi alat panggang roti. Hilman adalah orang yang berIQ tinggi dengan prestasi akademik yang mengagumkan tetapi akhirnya gagal dalam hidupnya karena mengalami kekecewaan pertama (Seagel, 2000 : 29). Kekecewaan seperti yang dialami Hilman banyak kemungkinannya, mungkin karena orang tuanya bercerai, mungkin juga karena cinta pertamanya gagal. Akhirnya kejadian itu meruntuhkan kepercayaan dirinya, menjadi tertutup, cepat marah, dan suka menyendiri..
EQ mencakup kemampuan-kemampuan yang berbeda beda akan tetapi dengan IQ seimbang dan sejalan sebagai jaringan sirkuit, saling membutuhkan dan saling mengisi. Emosi dan rasio adalah hati dan akal yang merupakan dua bagian dari satu keseluruhan. Kecerdasan emosional sesungguhnya membantu kecerdasan rasional. Emosional membimbing keputusan kerja dari saat ke saat. Keberhasilan seseorang sangat ditentukan keduanya. Bahkan intelektualitas tidak mampu bekerja dengan baik tanpa EQ.
Menurut Agus Nggermanto kesuksesan seseorang 20% ditentukan oleh IQnya dan 80% ditentukan EQnya. EQ dapat diterapkan secara luas untuk bekerja, belajar, mengajar, mengasuh anak, persahabatan, hubungan kasih, dan rumah tangga (Agus, 2002 : 97-98). Sedangkan IQ hanya berkisar pada kecakapan linguistik dan matematika yang sempit. Keberhasilan meraih angka pada tes IQ ternyata hanya ramalan sukses di kelas.

C. Pendidikan Bagi Kecerdasan Emosional.
1. Kenapa Emosional Harus Dididik.
Pendidikan baik yang didefenisikan dalam kaca mata Islam ataupun dimensi psikologi serta sosioginya semuanya bermuara pada satu aplikasi nilai yaitu proses perubahan tingkah laku untuk memenuhi tujuan hidup dalam masyarakat. Pendidikan dimaksudkan bagaimana peserta didik memiliki pengetahuan, pemahaman, serta keterampilan yang akan menjadi cerminan kepribadiannya.
Idealitas pendidikan di atas secara praksis dan realitas kehidupan sekarang, kalaupun tidak bisa dikatakan gagal-maka jauh dari harapan. Perubahan kondisi sosial-ekonomi yang dipacu oleh perkembangan ilmu dan teknologi yang cepat serta penyebaran informasi yang begitu dahsyat telah menyeret perubahan perubahan cara berfikir, cara menilai, dan cara menghargai hidup (Kaswardi, 1993 : 1). Pendidikan hampir tidak “bermakna” lagi. Dimana mana kriminalitas terjadi, pembunuhan, pemerkosaan dan kriminalitas lain yang tidak bisa dibahasakan dengan kata-kata.
Kenyataan ini merupakan manifestasi kesalahan sistem dan pelaksanaan pendidikan. Pendidikan selama ini diorientasikan kepada penguasaan ilmu dan pengetahuan yang menurut bahasa orde barunya “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Masyarakat dididik kecerdasan akalnya tetapi melupakan kecerdasan emosionalnya. Kesalahan inilah sehingga pendidikan menghasilkan output dan outcome yang jauh dari nilai nilai kemanusiaannya dan jauh dari pesan ilahiyah.
Hampir semua siswa yang punya prestasi buruk di sekolahnya karena tidak memiliki kecerdasan emosional. Dan kesuksesan yang diraih seseorang pada tahun tahun berikutnya berkat bentukan watak emosional pada tahun tahun sebelum memasuki dunia akademis (Goleman, 2001: 273), kecerdasan emosi akan menentukan keberhasilan dalam kehidupan karena emosi berperan memberikan dorongan dan motifasi untuk berprestasi dengan perasaan yang terpuaskan.
Mendidik kecerdasan emosional sangat berperan terhadap kepribadian seseorang. Bagaimana menentukan yang terbaik dalam hidupnya, bagaimana menetapkan apa yang seharusnya sejalan dengan fitrah insaniyah dan pesan ilahiyah. Kecerdasan emosional yang tinggi akan membentuk kepribadian yang memiliki integritas, komitmen dalam mengambil keputusan yang tepat. Sebaliknya pula, kegagalan mendidik dan menguasai kecerdasan emosional akan menjadi “gerbang” malapetaka kehidupannya. Maka jawaban sesunggunya ketika orang mempertanyakan kenapa anak sekolah telah jauh terlibat dalam gaya hidup narkoba dan kriminalitas maka jawabannya karena EQnya rendah, tidak ditumbuhkan dan dididik dengan baik.

2. Kapan Pendidikan Emosional Dapat Dilaksanakan
Pada hakekatnya semua kecerdasan sudah ada dalam otak sejak lahir. Bahkan kemampuan linguistik sudah muncul sejak manusia masih dalam kandungan Akan tetapi tujuh tahun pertama kehidupan, kecerdasan ini dapat disingkapkan dan dilejitkan apabila dirawat dengan baik. (Bobbi DePorter, 2001 : 30). Dengan demikian, pendidikan emosional dapat diberikan kepada siapa saja tanpa mengenal usia. Mulai dari bayi, anak anak, remaja, orang dewasa, orang tua, pria dan wanita, bahkan kepada bayi yang masih dalam kandungan dapat dididik kecerdasan emosionalnya. Namun dari aspek perkembangan manusia, pendidikan untuk kecerdasan emosional paling tepat dan urgen diberikan kepada anak di usia tujuh tahun pertama atau pra-sekolah, karena pada usia inilah anak memiliki tonggak-tonggak utama perkembangan fisik, rasio, dan emosionalnya.
Pada tujuh tahun pertama perkembangan fisik manusia akan berkembang dengan baik dan sehat apabila dirawat dan disuplai dengan makanan yang bergisi serta memiliki ketahanan tubuh yang kuat. Pada tahun-tahun pertama ini pula fungsi motor sensorik mulai bekerja dan berkembang cukup signifikan dengan bersentuhan langsung dengan lingkungan sekitarnya. Intelektualitasnya akan terlihat dengan aktifitas yang dilakukannya, bermain, meniru, dan membaca cerita.
Dari aspek emosi, anak cepat menangkap kejadian-kejadian di sekelilingnya terutama kejadian yang dialami bapak dan ibunya. Anak bisa tahu bila ibunya dalam keadaan stres atau tenang. Jika ibu stres maka anak bayi pun akan ikut rewel, dan bila ibu tenang anak juga akan ikut tenang. Hal ini dipahami karena antara ibu-bapak dengan anak mempunyai ikatan emosional yang kuat. Hubungan anak dengan orangtuanya mulai terjalin saat ayah ibunya memberinya minum, menggendong, mendekap, memeluk dan menentramkannya. Kualitas hubungan di masa ini akan mempengaruhi proses perkembangan keterampilan sosialnya nanti (Palembang Pos, 21 Juli 2002).
Pada usia 3 bulan, anak mulai berminat berinteraksi sosial lewat tatap muka ia akan belajar banyak hal lewat pengamatan dan peniruan bagaimana membaca dan mengungkap emosi. Pada usia 6-8 bulan, anak mulai menemukan cara baru untuk mengungkapkan perasaan hatinya, seperti sedih, gembira, marah, takut kepada sekelililngnya. Pada usia 9-12 tahun, anak mulai memahami bahwa manusia dapat membagi gagasan dan emosi mereka satu sama lain (Palembang pos, 21 Juli 2002).
Merawat potensi emosional anak pada usia ini sangat mempengaruhi kecerdasan emosionalnya dan Interaksinya secara emosional. Ketika anak pada usia ini lebih banyak dikungkungi dengan rasa sedih atau takut karena ulah bapaknya yang galak, otoriter dan tidak pengertian akan menjadi faktor penyebab runtuhnya sifat kepercayaan dirinya dan sikap optimisnya. Ia akan minder dan takut salah. Oleh karena itu, para pakar mengakui bahwa sikap orangtua pada usia tujuh tahun pertama ini akan mempengaruhi kecerdasan emosional anak di usia selanjutnya.

3. Langkah-langkah Pengajaran Emosional Kepada Anak.
Memastikan kesuksesan masa depan anak (didik) memang mustahil dilakukan, akan tetapi menuntun untuk mencapai hal itu bukan sesuatu yang mustahil. Oleh karena Maurice J. Elias memberikan lima langkah mendidik kecerdasan emosinal anak dan enam langkah menurut Agus Nggarmanto.
1. Sadari perasaan sendiri dan perasaan orang lain
2. Tunjukkan empati dan pahami cara pandang orang lain.
3. Atur dan atasi dengan positif gejolak emosinal dan prilaku
4. Gunakan kecakapan sosial positif dalam membina hubungan
5. berorientasi pada tujuan dan rencana positif ( J. Elias, 2001 :39-46).
6. Menjadi teladan (Agus, 2002 :193).
Meskipun keenam cara ini dikhususkan dalam mengasuh anak, namun dapat diimplementasikan juga dalam pengajaran di semua jenjang di lembaga formal. Seorang pendidik dapat memiliki kelima cara atau dijadikan pendekatan dalam mengajar untuk menumbuhkan kecerdasan emosional peserta didik sehingga peserta didik akan terbentuk keterampilan emosionalnya.
Meningkatkan kecerdasan emosional anak sangat sulit dilakukan tanpa ada aturan yang tepat untuk membuat anak menjadi disiplin. Disiplin yang efektif akan membuat anak tumbuh dalam keteraturan. Untuk menciptakan disiplin ini, ada beberapa kiat-kiat yang dapat ditempuh seorang guru sehingga ia bisa mengembangkan kecerdasan emosional siswanya atau orangtua terhadap anaknya, yaitu;
1. Membuat aturan dan batas yang jelas dan memberlakukannya dengan tegas.
2. Memberikan petunjuk dan peringatan apabila anak melakukan kesalahan
3. Membentuk prilaku positif dengan mendukung prilaku yang baik melalui pujian atau perhatian.
4. Mendidik anak sesuai dengan harapan
5. Mencegah masalah sebelum terjadi.
6. Memberikan sangsi dan hukuman kepada pelanggaran yang dibuat baik segaja maupun tidak sengaja.
7. Memberikan hukuman sesuai dengan pelanggaran yang dibuatnya.
8. Mencari teknik atau cara-cara tertentu untuk meciptakan disiplin yang tegas (L. E. Shapiro, 2001 : 33).
Kedelapan hal di atas merupakan kiat dan langkah yang dapat ditempuh untuk menciptakan disiplin bagi siswa/anak. Dengan mewujudkan kedisiplinan yang baik dan tegas ini, siswa akan mengalami keteraturan hidup. Potensi potensi emosionalnya pun akan tumbuh dan berkembang ke arah yang positif. Ia mampu mengontrol dan mengendalikan emosionalnya itu dalam lingkaran kedisiplinan yang telah dibuat. Apabila gejolak amarahnya muncul maka rasa malunya akan memberikan pertimbangan begitu juga sebaliknya, dengan demikian potensi-potensi emosional tersebut tumbuh dalam keseimbangan.

4. Peran Sekolah dalam Kecerdasan Emosional
Satu satunya tempat pelarian dan pengaduan anak ketika lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat tidak lagi menjadi landasan kuat dalam kehidupannya adalah sekolah. Sekolah adalah lingkungan akademik yang punya peran untuk merubah dan membangun keperibadian. Sehingga sekolah dituntut untuk membangun budaya “komunitas yang peduli”, tempat murid merasa dihargai, diperhatikan, dan memiliki ikatan dengan temannya, guru, dan sekolah sendiri (Goleman, 2001 : 399).
Sekolah diharapkan tidak hanya menjadi lembaga akademik tempat untuk mencapai kecerdasan intelektual yang tinggi tetapi bagaimana sekolah berperan mengembangkan dan menjadi kepedulian kecerdasan emosional. Guru punya peluang membantu anak menangangi krisis emosional yang dialaminya sehingga. sekolah baginya bukan tempat pelarian dari kesemrautan hidup, tetapi tempat menumpahkan segala problematikanya dan menemukan solusi solusinya. Murid akan merasa tenang di sekolah dan senang mengikuti pelajaran. Karena bagaimanapun prestasi kreatif bergantung pada totalitas hati dan pikiran.

5. Mendidik EQ dengan Model Flow
Flow adalah keadaan batin yang menandakan seorang anak sedang tenggelam dalam tugas yang sesuai dengan keinginan dan kemampuannya. Sesorang yang diberi tugas terlampau sederhana maka ia akan merasa bosan, dan apabila terlau berat maka akan cemas dan prihatin sehingga tidak flow. Model flow ini orientasinya adalah mencapai penguasaan keterampilan dan ilmu pengetahuan secaraa alami.
Pada prinsipnya mengajar dengan cara flow merupakan cara untuk menjadikan anak cinta pada pelajaran sehingga menghadapi pelajaran penuh dengan antusias, senang hati, dan bahagia. Tidak membosankan atau menakutkan. Anak belajar tekun, mengerjakan PR, berdiskusi karena merasa senang dan menyukainya, serta tertantang untuk mengetahuinya bukan karena ada ancaman (tidak naik kelas) atau iming-iming (hadiah pujian atau materi).
D. Simpulan
Setiap manusia memiliki potensi emosional dan kecerdasan emosional. Potensi ini akan tumbuh dan berkembang bisa ke arah positif, dan ke arah negatif. Ketika tidak dididik dengan baik maka emosional akan tumbuh dengan liar dan menjebak manusia dalam budak nafsu emosi. Sebaliknya emosi yang terkontrol dan dapat dikuasai akan mengantar manusia mencapai kesuksesan dan kebahagiaan.
Kecerdasan Emosional lebih penting bagi keberhasilan membentuk karakter dibandingkan dengan kecerdasan kognitif yang diukur dengan IQ karena kenyataan menunjukkan bahwa orang yang berIQ tinggi namun berEQ rendah gagal dalam membentuk kepribadian yang mantap. Oleh karena itu sudah saatnya pendidikan dititik beratkan pada pendidikan emosional.

DAFTAR PUSTAKA

Agustian, Ary Ginanjar, 2001, ESQ Emotional Spiritual Quotient berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Islam, Jakarta : Arga.

Azra, Azyumardi, 2001, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta : Kalimah

DePorter, Bobbi dan Mike Hernacki, 2001, Quantum Learning; Membiasakan Belajar Nyaman dan Meyenangkan, Alih bahasa Alwiyah Abdurrahman, Jakarta : Kaifa

Djainuri, Achmad, 2001, Pendidikan dan Modernisasi di Dunia Islam, Surabaya : al Ikhlas.

Elias, Maurice J.dkk., 2001, Cara-Cara Efektif Mengasuh Anak Dengan EQ, Alih Bahasa M. Jauharul Fuad, Bandung : Kaifa.

Goleman, Daniel, 2001, Emotional Intelligence; Kecerdasan Emosional, Mengapa EI Lebih Penting Daripada IQ, Alih Bahasa T. Hermaya, Jakarta : Gramedia.

Kaswardi, EM. K., 1993, Pendidikan Nilai Memasuki Tahun 2000, Jakarta : Grasindo

Nggermanto, Agus, 2002, Quantum Quotient, Jakarta : Nuansa.

Segal, Jeanne, 2001, Melejitkan Kepekaan Emosional, Alih Bahasa Ary Nilandari, Bandung : Kaifa.

Shapiro, lawrence E., 2001, Mengajarkan Emotional Intelligence Pada Anak, Alih bahasa Alex Tri Kantjono, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Sikap Ayah Pengaruhi Perkembangan EQ Bayi, 2002, dalam Palembang Pos, 21 Juli 2002 : Palembang

Umar, Nasaruddin, Sinergi IQ, EQ, dan SQ, Upaya Pemberdayaan SDM Melalui Kaidah Spiritual, Makalah FKE UKAZ 18 Januari 2002

Rabu, 28 Oktober 2009

ZUHUD DALAM PERSPEKTIF HADITS NABI SAW

I. LATAR BELAKANG MASALAH
A. Pendahuluan

Zuhud merupakan salah satu amalan yang mengakar di sebagian kalangan umat Islam. Mereka memahami sebagai bagian dari pengamalan keagamaan yang bersifat keharusan. Berprilaku zuhud diposisikan sebagai langkah penyucian bathiniah, dalam upaya membangun cinta kepada Allah swt. dan mendekatkan diri kepada-Nya. Sebab itu zuhud dianggap sebagai maqam (tahapan) mulia menuju Allah swt.
Al-Ghazali dalam Ihya ‘ulum al-dinnya mengatakan bahwa ;
“اعلم أن الزهد في الدنيا مقام شريف من مقامات السالكين، وينتظم هذا المقام من علم وحال وعمل كسائر المقامات، لأن أبواب الإيمان كلها..." “

Dalam prakteknya, prilaku zuhud identik dengan kesederhanaan, jauh dari kemilau dunia dan keindahan materi. Orang yang khusyu dalam dunia zuhud, akan menyucikan dirinya dari urusan materi dan kepentingan duniawi. melarutkan dirinya dalam zikir, wirid dan ibadah hablu min Allah lainnya. Bahkan di antara prilaku zuhud ada yang meninggalkan harta dan mengharamkan dirinya dengan kenikmatan duniawi.
Rabiatul ‘Adawiyah mengamalkan kezuhudannya dengan kemiskinannya yang memprihatinkan. Ia tidur di atas tikar yang kumal, berbantalkan batu. minum dengan bejana yang sudah pecah. Dengan kondisi itu, sebuah ucapan Rabi’ah yang terkenal, “Jika Allah menakdirkan aku dengan kondisi seperti ini, maka tugas yang harus aku lakukan adalah menerimahnya dengan tawakkal”.
Kisah Rabiatul Adawiyah dengan prilaku zuhudnya, menggambarkan kuatnya hubungan antara kenyataan yang harus diterima sebagai takdir dengan tawakkal kepada Allah swt. Yang menjadi pertanyaan, apakah prilaku zuhud adalah pengamalan sunnah Nabi saw al-Muttaba’ah (diikuti) atau hanyalah pelarian atas ketidakberdayaan diri dalam mengatasi problema hidup dengan kemiskinan dan kepapaannya, yang boleh jadi memang di jalan itu, ia menemukan ketenangan jiwa?.
Memang dalam banyak pemberitaan disebutkan bahwa keseharian Nabi saw. sangat sederhana. Dalam satu riwayat disebutkan; suatu ketika Umar bin Khattab r.a. masuk ke rumah Rasulullah saw. yang sedang berbaring di atas tikar dari daun kurma, sehingga tampaklah berbekas di punggungnya, sehingga Umar menangis dan berkata, Ya Rasulullah, engkau adalah Rasul utusan Allah, tapi hidup dengan penderitaan seperti ini, sementara raja-rara di istana romawi dan di kisrah Persia hidup dengan kemewahan di atas permadani-permadani ?!. Nabi lantas berkata, wahai Umar, sesungguhnya Allah telah memberikan kenikmatan itu di dunia kepada orang kafir, dan Allah menunda kenikmatan bagi orang beriman di Akhirat (syurga).
Keadaan hidup Rasulullah saw yang sangat sederhana; tidur beralaskan tikar, mengganjal perut dengan batu, terpaksa puasa sunnat karena tidak ada yang bisa dimakan, apakah hal itu merupakan cerminan prilaku zuhud? dan apakah prilaku Rasulullah saw tersebut merupakan sunnah fi’liyah yang dengan sendirinya menjadi sunnah yang diiukuti atau hanyalah keadaan hidup pribadi Rasulullah saw sebagai manusia biasa saja?, walaupun hal itu termaktub dalam teks-teks (matan) hadits.
Hadits Nabi sangat dituntuk kehadirannya di setiap zaman dan di seluruh tempat di mana ada manusia berada. Hadits Nabi harus selalu ada untuk bisa memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan zaman, memberikan solusi setiap persoalan yang dihadapi umat. Hadits Nabi harus tampil melakukan pelurusan setiap kekeliruan umat dalam membangun peradabannya.
Eksistensi hadits sebagai sumber otoritatif kedua setelah al-Quran, memiliki peran sentral dalam menuntun umat manusia melaksanakan praktek keagamaan yang benar. Bahkan al-Quran tidak akan berfungsi banyak memerankan perannya sebagai petunjuk, penawar, pembeda antara hak dan kebatilan jika saja hadits tidak hadir mendampinginya sebagai penjelas, perinci, dan penguat. Bahkan hadits dengan otoritasnya sendiri menampilkan hukum yang tidak dinyatakan secara tersurat dalam al-Quran.
Hadits sebagai refleksi Nabi saw. terhadap wahyu Ilahi memberikan kewenangan mutlak kepada Nabi saw. untuk menjelaskan ayat-ayat al-Quran, yang memungkinkan perintah Allah bisa dipahami. Sebab itu, Nabi saw. merupakan marja’iyatul ulya (referensi utama) bersama al-Qur’an dalam menjalankan amalan keagamaan. Ini berarti, mengkaji hadits sebagai literatur utama sunnah Nabi saw mutlak dilakukan untuk memahami amalan-amalan keagamaan, termasuk prilaku zuhud.

B. Permasalahan
Dari latar belakang di atas timbul pertanyaan mendasar yang menjadi permasalahan pokok dalam makalah ini, yaitu “Bagaimana konsep zuhud dalam persepektif hadits Nabi saw. Untuk memudahkan memahami permasalahan ini, akan dijabarkan dalam dua hal berikut ;
1. Hakekat zuhud yang tersurat secara implisit (bi al-lafz) dalam teks-teks (matan) hadits dan yang direduksi dari makna-makna (eksplisit) yang dapat dipahami dan dirumuskan dari term-term (ungkapan) hadits.
2. Tanda-tanda zuhud dalam hadits dan dalam pandangan ulama.

II. PEMBAHASAN
A. Hadits Zuhud
Kata zuhud disebutkan sebanyak 15 kali dalam hadits Nabi dengan term yang berbeda, yakni; kata al-zahadah, izhad, zuhdan dan azhad. Ia tersebar di beberapa kita hadits seperti Sunan al-Tirmizi, Sunan Ibn Majah, Mu’jam al-Kabir li al-Tabrani, Mu’jam al-Shagir li at-Thabrani, al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain, Sya’b al-Iman li al-Baehaqi, Mushannaf ibn Abi Syaebah, al-Ahad wa al-Matsani li Ibn Abi Ashim.
Di antara hadits-hadits tersebut adalah ;
 حَدَّثَنَا أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ أَبِي السَّفَرِ حَدَّثَنَا شِهَابُ بْنُ عَبَّادٍ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ عَمْرٍو الْقُرَشِيُّ عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ قَالَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللَّهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّوكَ.
 حدثنا أبو بكر محمد بن جعفر الآدمي القارئ ، ببغداد ، ثنا أبو جعفر أحمد بن عبيد بن ناصح ، ثنا خالد بن عمرو القرشي ، ثنا سفيان الثوري ، عن أبي حازم ، عن سهل بن سعد ، رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم وعظ رجلا فقال: ازهد في الدنيا يحبك الله عز وجل وازهد فيما في أيدي الناس يحبك الناس
 وأخبرنا أبو طاهر الفقيه ، أنا أبو بكر محمد بن عمر بن حفص الزاهد ، ثنا محمد بن أحمد بن الوليد ، ثنا محمد بن كثير ، عن سفيان الثوري ، عن أبي حازم المدني ، عن سهل بن سعد الساعدي ، قال : جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله ، دلني على عمل إذا أنا عملته أحبني الله ، وأحبني الناس قال : « ازهد في الدنيا يحبك الله ، وازهد فيما عند الناس يحبك الناس »
 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بن عَبْدِ اللَّهِ الْحَضْرَمِيُّ، حَدَّثَنَا مِنْجَابٌ الْحَارِثُ ح، وَحَدَّثَنَا عَلِيُّ بن عَبْدِ الْعَزِيزِ، حَدَّثَنَا أَبُو عُبَيْدٍ الْقَاسِمُ بن سَلامٍ، قَالا: حَدَّثَنَا خَالِدُ بن عَمْرٍو الأُمَوِيُّ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ سَهْلِ بن سَعْدٍ، قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمِلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي النَّاسُ، قَالَ:"ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ"
 حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُبَارَكِ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ وَاقِدٍ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ حَلْبَسٍ عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الزَّهَادَةُ فِي الدُّنْيَا لَيْسَتْ بِتَحْرِيمِ الْحَلَالِ وَلَا إِضَاعَةِ الْمَالِ وَلَكِنَّ الزَّهَادَةَ فِي الدُّنْيَا أَنْ لَا تَكُونَ بِمَا فِي يَدَيْكَ أَوْثَقَ مِمَّا فِي يَدَيْ اللَّهِ وَأَنْ تَكُونَ فِي ثَوَابِ الْمُصِيبَةِ إِذَا أَنْتَ أُصِبْتَ بِهَا أَرْغَبَ فِيهَا لَوْ أَنَّهَا أُبْقِيَتْ لَكَ
 حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ وَاقِدٍ الْقُرَشِيُّ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مَيْسَرَةَ بْنِ حَلْبَسٍ عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ الْغِفَارِيِّ قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ الزَّهَادَةُ فِي الدُّنْيَا بِتَحْرِيمِ الْحَلَالِ وَلَا فِي إِضَاعَةِ الْمَالِ وَلَكِنْ الزَّهَادَةُ فِي الدُّنْيَا أَنْ لَا تَكُونَ بِمَا فِي يَدَيْكَ أَوْثَقَ مِنْكَ بِمَا فِي يَدِ اللَّهِ وَأَنْ تَكُونَ فِي ثَوَابِ الْمُصِيبَةِ إِذَا أُصِبْتَ بِهَا أَرْغَبَ مِنْكَ فِيهَا لَوْ أَنَّهَا أُبْقِيَتْ لَكَ
 حَدَّثَنَا مُوسَى، ثَنَا مُحَمَّدُ بن الْمُبَارَكِ، ثَنَا عَمْرُو بن وَاقِدٍ، عَنْ يُونُسَ بن مَيْسَرَةَ بن حَلْبَسٍ، عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلانِيِّ، عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:"أَلا إِنَّ الزَّهَادَةَ فِي الدُّنْيَا لَيْسَ بِتَحْرِيمِ الْحَلالِ، وَلا إِضَاعَةِ الْمَالِ، وَلَكِنَّ الزَّهَادَةَ فِي الدُّنْيَا أَلا تَكُونَ بِمَا فِي يَدَيْكَ أَوْثَقَ مِنْكَ بِمَا فِي يَدَيِ اللَّهِ، وَأَنْ تَكُونَ فِي ثَوَابِ الْمُصِيبَةِ إِذَا أَصَبْتَ بِهَا أَرْغَبَ مِنْكَ فِيهَا لَوْ أَنَّهَا بَقِيَتْ لَكَ”
 أخبرنا أبو الحسين بن بشران ، أنا الحسين بن صفوان ، نا عبد الله بن محمد بن أبي الدنيا ، نا أبو مسلم الحراني ، نا مسكين بن بكير ، عن محمد بن مهاجر ، عن يونس بن ميسرة الجبلاني قال : « ليس الزهادة في الدنيا بتحريم الحلال ولا بإضاعة المال ، ولكن الزهادة في الدنيا أن تكون بما في يد الله عز وجل أوثق منك بما في يدك ، وأن يكون حالك في المصيبة وحالك إذا لم تصب بها سواء ، وأن يكون مادحك وذامك في الحق سواء » ورواه عمر بن واقد ، عن يونس بن ميسرة بن حلبس ، عن أبي إدريس ، عن أبي ذر ، عن النبي صلى الله عليه وسلم
 أخبرناه أبو سعد الماليني ، أنا أبو أحمد بن عدي الحافظ ، ثنا موسى بن عيسى الجزري ، قالا : ثنا صهيب بن محمد بن عباد ، ثنا يحيى بن محمد العبدي ، عن الأشعث بن براز ، ح ، أخبرنا أبو عبد الله الحافظ ، ثنا أبو الفضل محمد بن إبراهيم بن الفضل ، ثنا أبو زيد أحمد بن صالح الجوهري نيسابوري ، ثنا إسحاق بن منصور ، ثنا يحيى بن بسطام الأشعث ، ثنا علي بن زيد ، عن سعيد بن المسيب ، عن أبي هريرة ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : « إن الزهادة في الدنيا تريح القلب والبدن
 حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي فَرْوَةَ عَنْ أَبِي خَلَّادٍ وَكَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَيْتُمْ الرَّجُلَ قَدْ أُعْطِيَ زُهْدًا فِي الدُّنْيَا وَقِلَّةَ مَنْطِقٍ فَاقْتَرِبُوا مِنْهُ فَإِنَّهُ يُلْقِي الْحِكْمَةَ
 حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بن الْمُعَلَّى الدِّمَشْقِيُّ، ثنا هِشَامُ بن عَمَّارٍ، ثنا الْحَكَمُ بن هِشَامٍ الثَّقَفِيُّ، ثنا يَحْيَى بن سَعِيدِ بن أَبَانَ، عَنْ أَبِي فَرْوَةَ، عَنْ أَبِي خَلادٍ وَكَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ الْمُؤْمِنَ قَدْ أُعْطِيَ زُهْدًا فِي الدُّنْيَا وَقِلَّةَ مَنْطِقٍ فَاقْتَرِبُوا مِنْهُ فَإِنَّهُ تَلَقَّى الْحِكْمَةَ .
 حدثنا أبو معاوية عن سليمان بن فروخ عن الضحاك بن مزاحم قال : أتي النبي (ص) رجل فقال : يا رسول الله ! من أزهد الناس في الدنيا ؟ فقال : من لم ينس المقابر والبلى ، وترك أفضل زينة الدنيا ، وأثر ما يبقي على ما يفنى ، ولم يعد غدا من أيامه ، وعد نفسه من الموتى) .
1. أخبرنا أبو الحسين بن بشران ، قال : أنا أبو علي الحسين بن صفوان ، ثنا عبد الله بن محمد بن أبي الدنيا ، ثنا علي بن الجعد ، أنا أبو معاوية ، عن سليمان بن فروخ ، عن الضحاك بن مزاحم ، قال : أتى النبي صلى الله عليه وسلم رجل فقال : يا رسول الله ، من أزهد الناس ؟ قال : « من لم ينس القبر والبلى ، وترك فضل زينة الدنيا ، وآثر ما بقي على ما يغني ، ولم يعد غدا من أيامه ، وعد نفسه في الموتى »

Dari hadits-hadits di atas akan dikaji dengan membagi dalam empat kategori berdasarkan lafaznya. yaitu izhad, al-zahadah, zuhdan, azhad. Keempat kategori ini akan diurai dengan mengritisi sanadnya dan sekaligus akan dikritisi pada aspek matannya.

B. Kritik Sanad Hadits
Kategori pertama : izhad. Di antaranya diriwayatkan Ibnu Majah;
حَدَّثَنَا أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ أَبِي السَّفَرِ حَدَّثَنَا شِهَابُ بْنُ عَبَّادٍ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ عَمْرٍو الْقُرَشِيُّ عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ قَالَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللَّهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّوكَ
Artinya; dari Abu ‘Ubaedah bin Abi al-Safar (ts), dari Syihab bin Abbad (ts), Khalid bin ‘Amru al-Qurasy (ts), dari Sofyan al-Tsaury (‘a), Abi Hazim (‘a), Sahl bin Sa’din Al-Sa’idy berkata ; seseorang datang kepada Rasulullah saw. lalu berkata; “Ya Rasulallah Tunjukkanlah kepadaku yang apabila aku melaksanakannya Allah dan manusia akan mencintaiku”. Rasulullah saw. berkata, “zuhudlah di dunia kamu akan dicintai Allah, dan zuhudlah dengan apa yang dimiliki manusia, maka mereka akan mencintaimu.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam kitab al-Mustadraknya dengan jalur sanad, dari Abu Bakar Muhammad bin Ja’far al-Adamy al-Qari’i (ts), Abu Ja’far Ahmad bin ‘Ubaid bin Nashih (ts), Khalid bin Amru al-Qurasy (ts), Sofyan al-Tsaury (‘a), Abi Hazim (‘a), Sahl bin Sa’din (‘a), Nabi saw.
At-Tabrani dalam kitab Mu’jam al-Kabirnya dengan jalur dari Muhammad bin Abdillah al-Hadramy (ts), Minjab al-Harits (ts). Jalur lain dari Ali bin Abdul ‘Aziz dan dari Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Salam keduanya berkata, dari Khalid bin Amru al-Qurasy (menyampaikan kepada kami), dari Abi Hazim, dari Sofyan al-Tsaury, dari Abi Hazim, dari Sahl bin Sa’din Al-Sa’idy.
Al-Baihaqy meriwayatkan di jalur Abu Thahir, Muhammad bin Ahmad al-Walid (ts), Muhammad bin Katsir (ts), Sofyan al-Tsaury (‘a), Abi Hazim al-Madiny (‘a), Sahl bin Sa’din Al-Sa’idy (‘a), Nabi saw.
Ada tiga sanad yang jalur periwayatannya berbeda pada awal periwayatan, dan kemudian bertemu pada perawi tengah, yaitu Khalid bin Amru al-Qurasy. Sedangkan jalur sanad yang dipakai al-Baihaqy bertemunya pada Sofyan al-Tausry.
Melihat pada pola periwayatannya yang tunggal mulai dari thabaqah sahabat Sahl bin Sa’din Al-Sa’idy hingga kepada thabaqah kibar ‘atiba tabi’in Sofyan al-Tasury maupun thabaqah min shigar ‘atiba al-Tabi’in (tabi’ tabi’in yunior) Khalid bin Amru al-Qurasy, maka dapat diketahui bahwa berdasarkan tinjauan dari segi kwantitas hadits, hadits ini termasuk kategori hadits Gharib Mutlak .
Dalam teori Juynboll, bundel isnad pada jalur pertama di atas menunjukkan bahwa Khalid bin ‘Amru al-Qurasy berperan sebagai common link . Hal itu karena terjadi single strand (jalur tunggal) yang merentang dari sahabat sebagai perawi a’la (tertinggi) yang menerima hadits dari Nabi hingga ke common linknya, Khalid bin ‘Amru al-Qurasy. Nanti pada common lingknya hadits terpancar kepada tiga orang perawi yang berkedudukan sebagai muridnya.
Ditinjau dari aspek kwalitas perawi, Khalid bin Amru al-Qurasy merupakan perawi yang bermasalah besar. Ibnu Ma’in menilainya sebagai pendusta. Shaleh Jazarah dan yang lainnya menasabkan haditsnya sebagai hadits palsu . al-Mazy dalam kitab Tahzib al-Kamal menghimpun beberapa penilaian ulama kepadanya, diantaranya; berkata Ahmad bin Sinan al-Wasity, dari Ahmad bin Hanbal; orangnya munkar al-hadits. Berkata ‘Abbas al-Daury dari Yahya bin main : laesa haditsuh syaeun. Berkata al-Bukhary, Zakariya bin Yahya al-Saajy : Munkar al-hadits. Berkata Abu Hatim : matruk al-hadits wa dhai’f
Berdasarkan penilaian ulama di atas, maka dapat dipahami bahwa sanad hadits di atas merupakan sanad hadits yang sangat bermasalah, sehingga tidak bisa dijadikan hujjah., karena terputusnya mata rantai sanad, di mana salah seorang perawinya adalah pendusta.
Sebagai perawi, Khalid bin Amru al-Qurasy yang ingin mempromosikan sebuah hadits, ia menyediakan sanad yang kembali pada otoritas yang lebih tinggi hingga ke sahabat dan bahkan menyandarkan hingga kepada Nabi saw, sehingga tampak sanadnya bersambung kepada Nabi saw. Padahal dialah yang menjadi sumber hadits tersebut dan memancarkannya kepada beberapa muridnya. Dengan demikian hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah, Al-Tabrani, dan Al-Hakim adalah hadits palsu
Sedangkan jalur yang dipakai al-Baihaqy, perawi Muhammad bin Katsir dinilai oleh kritikus hadits sebagai Shuduq katsirul ghalat (jujur tetapi banyak kesalahannya). Ini berarti Muhammad bin Katsir bermasalah pada aspek kedhabithan, sebabnya riwayatnya tidak memenuhi syarat riwayat shahih

Catatan buat Imam An-Nawawi
Imam Al-Nawawi memasukkan hadits zuhud yang diriwayatkan Ibnu Majah dalam kumpulan empat puluh hadits-hadits pilihannya, dan meletakkannya pada urutan hadits ke-31. Nawawi menganggap hadits tersebut sebagai hadits hasan, karena adanya syawahid . Menurut penulis pendapat Imam Nawawi ini tidak kuat dengan asumsi bawa; Jika yang dianggap syahid itu adalah jalur sanadnya al-Baihaqy dalam artian al-tabi’, ata ada jalur dari sahabat lain (al-Syahid), maka tetap saja tidak bisa mengangkat derajat kedhaifan hadits Ibnu Majah menjadi hadits hasan lighaerih. Karena tingkat kedhaifannya sangat parah, di antara perawinya ada yang dinilai pendusta . Tidak satu pun hadits palsu yang bisa terangkat derajatnya menjadi hasan lighaerih walaupun penguatnya itu adalah hadits yang shahih. Sebabnya hadits palsu pun tidak dapat dijadikan sebagai hujjah dan dalil-dalil agama hingga termasuk fadhail al-‘amal.

Kategori kedua : al-zahadah
Hadits al-zahadah diketemukan dalam beberapa jalur periwayatan ;
1. Al-Tirmizi dengan jalur ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman (ts), dari Muhammad bin al-Mubarak (kh), dari ‘Amru bin Waqid (ts), dari Yunus bin Halbas (ts), dari Abu Idris al-Khaulany (‘a), dari Abu Dzar (‘a) dari Nabi.
2. Riwayat Ibnu Majah dari Hisyam bin ‘Ammar (ts) dari ‘Amru bin Waqid al-Qurasy (ts), dari Yunus bin Maesarah bin Halbas (‘a), Abu Idris al-Khaulany (‘a), dari Abu Dzar al-Ghifary (‘a) dari Nabi
3. Riwayat al-Tabrani dari Musa (ts), dari Muhammad bin al-Mubarak (ts), dari ‘Amru bin Waqid (ts), dari Yunus bin Maesarah bin Halbas (ts), dari Abu Idris al-Khaulany (ts), dari Abu Darda (ts), dari Nabi
4. Riwayat al-Baihaqy dari Abu al-Husaen bin Basyran, al-Husaen bin Shafwan, Abdullah bin Muhammad bin Abu al-Dunia, Abu Muslim al-Harrany, Muhammad bin Muhajir, Yunus bin Maesarah al-Jaballany, dari Nabi
5. Riwayat al-Baihaqy dari Abu Sa’ad al-Maliny (kh), Abu Ahmad bin ‘Adawy al-Hafidz (kh), Musa bin ‘Isa al-Jazary (ts), keduanya berkata, Tsuhaeb bin Muhammad bin ‘Ibad (ts), Yahya bin Muhammad al-‘Abady (ts), al-As’ats bin Barraz (‘a), H. Abu Abdillah al-Hafidz (kh), Abu al-Fadl bin Ibrahim bin al-Fadl (ts), Abu Zaed Ahmad bin Shaleh al-Jauhary Naesabury (ts), Ishaq bin Manshr (ts), Yahya bin Bastham al-asy’ats (ts), ‘Ali bin Zaed (ts), Sa’id bin al-Musaeb (‘a), Abu Huraerah (‘a)
Apabila sanad-sanad hadits di atas diteliti dengan mengacu kepada metode kritik hadits dengan kaidah Mayor dan Minor, maka penelitian terhadap setiap periwayat dan ketersambungannya dapat dikemukakan sebagai berikut ;
Ibnu Majah menerima hadits dari Hisyam bin ‘Ammar (153-245 H) : Shuduq. Amru bin Waqid ( w:130 H) , menurut kritikus hadits dinilai matruk. Yunus bin Maesarah bin Halbas : tsiqat. Abu Idris al-Khaulany : tsiqat. Abu Dzar al-Gifary sahabat Nabi : kulluhum ‘udul.
Berdasarkan penelusuran terhadap jalur sanad Ibnu Majah, ditemukan seorang perawi yang bernama ‘Amru bin Waqid yang dinilai oleh kritikus hadits sebagai matruk. Jalur sanad yang terdapat salah seorang perawinya matruk, maka dipastikan sebagai haditsnya munqati’ (terputus) dengan kwalitas yang sangat lemah, karena ia muttaham bi al-kazb (tertuduh berdusta), satu tingkat di bawah hadits maudhu’.
Hadits riwayat al-Tirmizi dan al-Tabrani juga memiliki kondisi yang sama sebagai hadits munqati’ (terputus) dengan kwalitas yang sangat parah kelemahannya. Karena keduanya bertemu jalur periwayatannya dengan jalur Ibnu Majah pada perawi ‘Amru bin Waqid. Sebab itu penulis tidak lagi melakukan penelusuran jalur sanadnya. Demikian pula jalur riwayat al-Baihaqy sangat kuat indikasinya sebagai jalur yang lemah.
Hadits al-zahadah juga dapat dikategorikan sebagai hadits gharib. Karena terjadi ketunggalan jalur pada tiga thabaqah; ‘Amru bin Waqid, Yunus bin Maesarah bin Halbas, Abu Idris al-Khaulany.

Kategori ketiga : dengan lafaz zuhdan.
Lafaz zuhdan, penulis temukan di dua tempat, di Sunan Ibnu Majah dan Mu’jam al-Kabir li al-Tabrani. Jalur sanad keduanya bertemu pada Hisyam bin Ammar. Tapi sepanjang penelusuran isnadnya, penulis menemukan kesulitan mengungkap seorang perawinya yang bernama al-Hakam bin Hisyam al-Tsaqafi. Satu-satunya nama yang sama yang dapat dilacak hanyalah Al-Hakam bin Hisyam bin Abdurrahman al-Tsaqafi al-‘Aqily, Abu Muhammad al-Kufy, dari kibar al-tabi’in. Jika ini benar, tentu jalur sanad mengalami kerancuan karena Yahya bin Sa’id bin Abana adalah shigar al-tabi’in. kerancuannya kibar al-tabi’in menerima hadits dari shigar al-tabi’in.

Kategori keempat : dengan lafaz azhad (isim tafdhil)
Hadits azhad, ditemukan pada dua jalur riwayat; Abu Syaebah dan al-Baihaqy. Keduanya bertemu di perawi Abu Mu’awiyah, selanjutnya menggunakan jalur tunggal hingga al-Dhahhak bin Mazahim. Mata rantai perawinya hanya sampai kepada al-Dhahhak bin Mazahim. Selanjutnya kepada Nabi saw.
Pada sanad hadits ini al-Dhahhak bin Mazahim berkedudukan sebagai ar-rawi al-a’la (perawi tertinggi) yang menyandarkan hadits kepada Nabi saw. sementara al-Dhahhak sendiri hanyalah atiba’ al-tabi’in besar. Sebab itu dapat dipastikan bahwa hadits ini munqati’ mursal, karena al-Dhahhak menjatuhkan dua perawi secara berurutan, yaitu al-tabi’in sebagai generasi di atas atiba’ al-tabi’in dan sahabat sebagai perawi mutlak yang menerima hadits dari Nabi saw.
Berdasarkan pengkajian melalui kritik sanad di atas, penulis berkesimpulan keempat kategori yang teleha disebutkan secara kwantitas semuanya hadits gharib. Dari segi kwantitas tidak ada satu pun hadits yang berbicara tentang zuhud yang otentik (shahih). Bahkan sanad-sanad haditsnya merupakan sanad hadits yang sangat parah kelemahannya, ada yang maudhu’, matruk, dan murshal (dengan terputus dua generasi). Untuk memperkuat pengkajian maka akan dilakukan kritik matan.

C. Kritik matan
Adapun matan hadits-hadits yang telah diurai sebelumnya, maka akan di analisa dengan melihat beberapa versi pada matan
Pada kategori pertama ada empat versi yang bisa diungkap; versi Syihab bin ‘Abbad, versi Ahmad bin ‘Ubaid, versi Minjab dan Abu ‘Ubaid, dan versi al-Walid.

Versi Syihab bin ‘Abbad
1. دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللَّهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ ُ
2. ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّه
3. وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّوكَ
Versi Ahmad bin ‘Ubaid
1. أن النبي صلى الله عليه وسلم وعظ رجلا
2. ازهد في الدنيا يحبك الله عز وجل
3. وازهد فيما في أيدي الناس يحبك الناس

Versi Minjab dan Abu ‘Ubaid
1. ، دُلَّنِي عَلَى عَمِلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي النَّاسُ
2. ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّه
3. وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ



Versi al-Walid
1. دلني على عمل إذا أنا عملته أحبني الله ، وأحبني الناس
2. ازهد في الدنيا يحبك الله
3. وازهد فيما عند الناس يحبك الناس

Kandungan teks (matan) hadits dari seluruh versi yang ada, jika dinyatakan berasal dari Sofyan Al-Tsaury (meskipun pada Khalid bin ‘Amru terpancar lebih lebar periwayatan), maka terlihat dengan jelas bahwa keempatnya menunjukkan persamaan substansi, dan persamaan pada struktur matan. Dari aspek substansi matan, keempatnya menggambarkan nasehat Nabi saw. untuk bisa dicintai Allah dan manusia, dengan menzuhudkan diri. Sedangkan dari aspek struktur matan, semuanya menggunakan tiga variabel utama, meskipun terjadi ziyadah di dalamnya
Terdapat ziyadah (penambahan) dan nuqsan (pengurangan) pada teks matan, dan terjadi sedikit perbedaan pada versi Minjab dan Abu ‘Ubaid, yang menggunakan lafaz عند الناس, berbeda dengan tiga versi lainnya yang menggunakan أَيْدِي النَّاسِ. Tetapi semua hal tersebut tidak mempengaruhi substansi dan titik fokus pesan yang dibawa di dalamnya, bahwa zuhud merupakan syarat untuk mendapatkan cinta Allah dan cinta manusia.
Dalam matan hadits, terjadi kemajhulan (kesamaran). Orang yang bertanya kepada Nabi saw dan atau yang dinasehati, hanya disebutkan dengan kata rajulun (seseorang) tanpa disebutkan identitasnya. Memang dalam beberapa kasus, pelaku yang diceritakan kadangkala tidak disebutkan identitasnya, hal tersebut karena alasan etika dan pertimbangan menjaga nama baik penanya. Dari sini muncul pertanyaan, apakah zuhud merupakan persoalan yang sensitif untuk dibahasakan secara umum, sehingga harus dimajhulkan orang yang bertanya, dengan alasan menjaga nama baik dan pertimbangan etika?
Kategori kedua ada tiga versi yang bisa diungkap ; versi Abdullah bin Abdurrahman, versi Hisyam bin ‘Ammar, versi Hisyam bin ‘Ammar

Versi Abdullah bin Abdurrahman
1. الزَّهَادَةُ فِي الدُّنْيَا لَيْسَتْ بِتَحْرِيمِ الْحَلَالِ وَلَا إِضَاعَةِ الْمَالِ
2. وَلَكِنَّ الزَّهَادَةَ فِي الدُّنْيَا أَنْ لَا تَكُونَ بِمَا فِي يَدَيْكَ أَوْثَقَ مِمَّا فِي يَدَيْ اللَّهِ
3. وَأَنْ تَكُونَ فِي ثَوَابِ الْمُصِيبَةِ إِذَا أَنْتَ أُصِبْتَ بِهَا أَرْغَبَ فِيهَا لَوْ أَنَّهَا أُبْقِيَتْ لَكَ

Versi Hisyam bin ‘Ammar
1. لَيْسَ الزَّهَادَةُ فِي الدُّنْيَا بِتَحْرِيمِ الْحَلَالِ وَلَا فِي إِضَاعَةِ الْمَالِ
2. وَلَكِنْ الزَّهَادَةُ فِي الدُّنْيَا أَنْ لَا تَكُونَ بِمَا فِي يَدَيْكَ أَوْثَقَ مِنْكَ بِمَا فِي يَدِ اللَّهِ
3. وَأَنْ تَكُونَ فِي ثَوَابِ الْمُصِيبَةِ إِذَا أُصِبْتَ بِهَا أَرْغَبَ مِنْكَ فِيهَا لَوْ أَنَّهَا أُبْقِيَتْ لَكَ
Versi Musa
1. أَلا إِنَّ الزَّهَادَةَ فِي الدُّنْيَا لَيْسَ بِتَحْرِيمِ الْحَلالِ، وَلا إِضَاعَةِ الْمَالِ
2. وَلَكِنَّ الزَّهَادَةَ فِي الدُّنْيَا أَلا تَكُونَ بِمَا فِي يَدَيْكَ أَوْثَقَ مِنْكَ بِمَا فِي يَدَيِ اللَّهِ
3. وَأَنْ تَكُونَ فِي ثَوَابِ الْمُصِيبَةِ إِذَا أَصَبْتَ بِهَا أَرْغَبَ مِنْكَ فِيهَا لَوْ أَنَّهَا بَقِيَتْ لَكَ
Jika kandungan teks (matan) hadits yang dinyatakan semuanya berasal dari Amru bin Waqid al-Qurasy, yang berjumlah tiga versi, maka terlihat dengan jelas bahwa ketiganya menunjukkan persamaan substantif dan struktur matan. Daris segi substansinya, ketiganya memberikan penjelasan hakekat zuhud bahwa bukanlah zuhud dengan mengharamkan diri dari yang halal dan membuang harta, tetapi zuhud adalah ketika Allah menjadi prioritas dalam diri dan senantiasa mengharap balasan (pahala) dari setiap musibah. Sedangkan dari segi struktur matan ketiganya dimulai dengan mengungkapkan zahadah fi al-dunia “الزَّهَادَةَ فِي الدُّنْيَا”. Memang terdapat sedikit perbedaan pada pemilihan lafadz, dimana ada penambahan لَيْسَ pada versi Hisyam dan أَلا إِنَّ pada versi Musa, tetapi penambahan itu tidak mempengaruhi kualitas matan.
Satu versi yang berbeda adalah versi Tsuhaeb bin Muhammad bin ‘Ibad. Dalam versi ini, dikemukan bahwa zuhud adalah mengistirahatkan hati dan badan. Walaupun berbeda secara struktur matan, tetapi tetap memiliki kesamaan nilai subtantifnya dengan tiga versi sebelumnya, yaitu motivasi pembersihan diri.
Pada kategori ketiga, pesan yang dapat pahami adalah orang yang zuhud mampu menemukan hikmah (kebijaksanann) dalam menyikapi persoalan hidup. Sedangkan pada ketegori keempat, terkandung pesan bahwa orang yang palin zuhud di dunia, adalah orang sudah mampu meninggalkan perhiasan termulia dunia, kemudian sibuk mempersiapkan dirinya menuju kematian.
Dari analisa kritis terhadap sanad dan matan hadits dengan menggunakan pengkategorian berdasarkan lafaz-lafaz zuhud itu sendiri, penulis kemudian bisa berkesimpulan bahwa secara implisit (bi al-lafz), tidak satu pun hadits yang berbicara tentang zuhud yang bisa diterima sebagai hujjah untuk membenarkan kesunnah an prilaku zuhud dalam beragama. Semua hadits-hadits yang ditelusuri merupakan hadits yang bermasalah dengan tingkat kesalahan yang sangat parah.
Hadits-hadits yang menyebutkan tentang zuhud, tidak lain hanyalah ungkapan-ungkapan para ulama, yang kemudian berkembang menjadi hadits Nabi. Sebab itu dalam beberapa kitab hadits bertebaran atsar dari beberapa ulama seperti Al-Khaulani, Sofyan al-Tsauri, Ahmad bin Hanbal, al-Zuhry, al-Ghazali dan yang lainnya. dari beberapa ungkapan-ungkapannya itu ada yang disandarkan kepada Nabi saw. sehingga terkesan hadits Nabi saw. hingga pada akhirnya dipahami sebagai hadits Nabi saw.
Secara implisit (bi al-ma’na) yang menghadirkan pesan zuhud, ditemukan banyak tertuang dalam teks-teks hadits. Bahkan Muslim bin al-Hajjaj dalam shahihnya mencantumkan satu bab khusus, kitab al-zuhd wa al-raqaiq.
Di antara hadits-hadits yang dicantumkan dalam bab al-zuhd wa al-raqaiq adalah :
 حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ يَعْنِي الدَّرَاوَرْدِيَّ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
 حَدَّثَنَا هَدَّابُ بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ مُطَرِّفٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْرَأُ أَلْهَاكُمْ التَّكَاثُرُ قَالَ يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِي مَالِي قَالَ وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ
 حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ كِلَاهُمَا عَنْ ابْنِ عُيَيْنَةَ قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ
 حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا و قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا الْمُغِيرَةُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحِزَامِيُّ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَقَالَ إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْمَالِ وَالْخَلْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ مِمَّنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ
 حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ ح و حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ ح و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ.

Menurut penulis, hadits-hadits tersebut menyiratkan (makna) pesan Nabi saw. tentang manajemen diri. Bahwa manusia harus mampu memenej dirinya dengan baik dan mengelola pribadinya sehingga ia mampu menempatkan dirinya secara proporsional sebagai makhluk yang materil dan berpijak di atas materi, tetapi memiliki tuntutan spirituil. Artinya mampu memposisikan dunia sebagai medan perjuangannya, yang materi dan segala keindahannya tidak dapat memberikan kepuasan kecuali hanya sesaat, dan meyakini akhirat sebagai tujuan utama segala usaha dan perjuangannya.
Ia bekerja mengelola dunia, mengumpulkan harta, berkutat dengan materi, menundukkan segala kenikmatan dunia dan keindahan di bawah kekuasaan iman. Sehingga ia mampu memproduksi semuanya itu menjadi keshalehan hidup yang memberi nilai kenikmatan pada dimensi lain. Jika dikaitkan dengan penempatan hadits-hadits tersebut dalam bab zuhud, maka bisa dipahami bahwa zuhud yang dimaksud Imam Muslim adalah, manajemen pengelolaan diri, bagaimana seseorang bisa berpijak di atas lantai dunia dan berpegang di pintu akhirat.

Pembahasan (fiqh al-hadits)
Dari segi bahasa, kata zuhud, lawan kata dari al-ragbah (keinginan) dan al-hirsh (rakus) terhadap dunia. Zuhud juga berarti qalil al-mal (sedikit harta). Juga bisa berarti sempit, seperti ungkapan zahid al-ard artinya tanah yang sempit sehingga air tidak bisa keluar banyak . ini berarti zuhud adalah ketika menyedikitkan keinginan terhadap harta atau materi, dan menyempitkan diri dengan pembatasan gerak dari kemasghulan urusan-urusan dunia.
Seperti dikatakan sebelumnya bahwa terminologi zuhud hanyalah ungkapan ulama saja. Maka melacak akar kesejarahan awal munculnya bisa dikaitkan dengan kemuncul aliran tasawwuf. Itulah sebabnya prilaku zuhud merupakan amalan khas kaum sufi. Boleh jadi terminologi zuhud dimunculkan sebagai respon reaktif ulama-ulama sufi terhadap prilaku sebagian umat Islam yang telah banyak menyita waktunya dengan urusan dan perkembangan duniawi.
Dari aspek theologis, bisa jadi terminologis zuhud tersebut dimunculkan sebagai hujjah-hujjah untuk “melawan” kelompok Islam rasional yang memiliki perhatian tinggi terhadap kemajuan dunia dengan segala aspek keindahannya. Pada akhirnya terminologi zuhud sebagai legitimasi agama kaum sufi. Sebagai upaya memperkuat legitimasinya, ia menyediakan isnad hadits yang kembali kepada otoritas yang lebih tinggi, seperti sahabat dan Nabi saw.
Ada banyak pendapat ulama tentang zuhud dan tanda-tandanya. Abu Sulaeman berkata; orang zuhud adalah orang yang tidak membenci dunia dan tidak memujinya, tetapi juga tidak melihatnya. Tidak bergembira jika dunia menghampirinya, dan tidak bersedih karena dunia meninggalkannya . Wahab bin al-Warid juga memiliki pandangan yang sama, bahwa zuhud adalah ketika tidak menyesali diri dengan sesuatu yang hilang, dan tidak bergembira dengan sesuatu yang datang. Al-Zuhry melihat dari sisi lain, bahwa ketika ia tidak dikuasi oleh keharaman tetap sabar, dan ketika tidak disibukkan dengan sesuatu yang halal ia tetap bersyukur. Adapun Sofyan al-Tsaury dan Ahmad memaknai zuhud dengan pendek angan-angan .
Menurut Al-Gazali, zuhud itu bukan berarti meninggalkan harta, sebagaimana yang banyak dikira oleh banyak orang. Karena meninggalkan harta dan menampakkan hidup prihatin sangat mudah bagi orang yang mencintai pujian sebagi orang zuhud . Inti zuhud menurutnya adalah kedermawanan. Sebab orang yang cinta kepada sesuatu, ia akan mempertahankannya. Maka tidaklah seseorang bisa berpisah dari dunia (materi) kecuali jika dunia itu telah berubah menjadi sesuatu yang kecil di matanya. .
Apa yang diungkapkan ulama tersebut menunjukkan adanya pemahaman yang berbeda di kalangan ulama dalam memaknai zuhud itu sendiri. Sebab itu sangat sulit menarik satu terminologi zuhud yang bisa disepakati bersama. Ini menunjukkan bahwa zuhud bukanlah praktek agama yang telah diajarkan Nabi saw. kepada sahabatnya. Dari beragamnya pendapat, zahid (orang yang zuhud) dapat di bagi menjadi dua kelompok; kelompok konservatif dan kelompok moderat. Kelompok konservatif adalah orang-orang yang mengasingkan diri dari dunia dan tidak memiliki angan-angan panjang terhadap dunia dan segala kemegahannya. Sedangkan kelompok moderat, yang berpandangan bahwa zuhud itu, ketika tidak menjatuhkan diri dalam kecintaan duniawi, sehingga pada saat mendapatkan harta, dengan segera didermawakannya sebagai upaya melepaskan diri dari lilitan dunia.
Ada beberapa ayat al-Quran yang menjadi dasar utama bagi orang yang menzuhudkan dirinya dengan dunia. Antara lain ;
Allah berfirman dalam Q.S. Ali Imran/3 : 185
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ (185)
Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

Dalam Q.S. Luqman/31 :33
فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ (33)
Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.

Dalam Q.S. Al-An’am/6 :32
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآَخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ...(32)
Dan Tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belakadan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?

Sa’id Hawwa menyebutkan tanda kezuhudan yang harus ada pada batin seseorang. Pertama; tidak bergembira dengan apa yang ada, dan tidak bersedih dengan apa yang hilang. Kedua; sama saja orang mencacinya dan orang mencelanya. Ketiga; ia selalu bersama Allah swt. dan hatinya lebih banyak didominasi oleh lezatnya keta’atan. Karena hati tidak bisa sama sekali terbebas dari dua cinta, cinta kepada Allah dan cinta kepada dunia. Kedua cinta di dalam hati, seperti air dan udara di dalam gelas, keduanya tidak bisa bertemu .
Dari sini dapat disimpulkan bahwa inti dari seluruh pendapat dan tanda-tanda zuhud yang dikemukan ulama di atas adalah upaya membangun keyakinan kepada Allah swt dan cinta kepada-Nya di atas segalanya, dan tidak menduakan dirinya-Nya dengan apa pun dari ciptaan-Nya. Itulah sebabnya dunia (materi) menjadi titik sentral persoalannya. Bahwa sekecil apa pun cinta terhadap dunia terbangun dalam hati, akan mempengaruhi kualitas cinta kepada Allah swt. Maka zuhudlah sebagai maqam (pos) dalam thariqah menuju Allah, yang mampu menundukkan dunia untuk tidak mampir dalam hati.
Disinilah kaum sufi sebagai pengemban ajaran zuhud terjebak dalam pemahaman yang parsial. Bagi penulis membangun cinta kepada Allah, justru tidak boleh menepiskan hati dari dunia. Bahkan kekhusyu’an dalam ibadah tidak bisa dipisahkan dari aspek materi. Sesungguhnya posisi materi, kekayaan dengan kepapaan dan jauh dari materi adalah dua hal yang sama dalam Islam. Sama-sama orang bisa masuk syurga karenanya. Karena kemiskinan orang bisa masuk syurga dan karena kekayaan materi orang juga bisa masuk syurga.
Di sisi lain, prilaku zuhud akan menafikan kesyumulan (universalitas) Islam yang mencakup segala aspek kehidupan, termasuk ekonomi, politik, budaya dan seluruh aspek kehidupan. Dua hal pertama, adalah aspek yang tidak bisa dipisahkan dengan materi, apalagi dalam konteks zaman sekarang.
Ayat-ayat al-Qur’an berbicara tentang kehidupan secara komprehensif dan integral. Al-Qur’an berbicara tentang dunia sebagai tipuan, permainan dan senda gurau, juga berbicara tentang pentingnya materi.
Allah berfirman dalam Q.S. Al-Taubah : 111
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ
وَيُقْتَلُونَ ... (111)
Artinya : Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh...

Di sisi lain, jika zuhud ini berkembang pesat di kalangan umat Islam dan menjadi bagian dari prilaku beragama, zuhud dipahami sebagai sunnah muttaba’ah (ikutan) Nabi saw. akan memberikan dampak buruk bagi perkembangan peradaban umat Islam. Umat akan menghinakan dunia dan “gemetaran” dengan harta. Padahal Sementara tujuan umat manusia selaku mandataris Tuhan (khalifah) salah satunya adalah membangun peradaban manusia dan memakmurkan dunia. Peradaban dunia tidak mungkin dibangun tanpa materi. Dunia tidak akan maju dan indah dengan kemakmurannya tanpa materi.
Bagi penulis zuhud dalam persepktif hadits Nabi saw. adalah persoalan manajemen diri. Yaitu kemampuan mengelola hidup dengan baik antara aspek lahiriyah dan bathiniyah. Zuhud adalah bagaimana komunikasi batin dengan aspek materi, sehingga mampu mempertemukan dua dimensi yang berbeda dalam satu ruang iman. Oleh karena itu, tanda orang yang zuhud, ketika ia bekerja mengelola dunia, mengumpulkan harta, berkutat dengan materi, menghadirkan keindahan dan kenikmatan duniawi, tetapi ia menundukkan segala kenikmatan dan keindahan tersebut di bawah kekuasaan otoritas iman. Sehingga ia mampu memproduksi semuanya itu menjadi keshalehan hidup.

III. PENUTUP
A. Simpulan
1. Hadits-hadits yang menyebutkan dan berbicara tentang zuhud secara implisit (bi al-lafz), adalah hadits-hadits yang lemah, dan sebagiannya adalah hadits yang kelemahannya sangat parah. Sebagain hadits-hadits tersebut hanyalah ungkapan-ungkapan ulama yang diklaim sebagai hadits Nabi saw. dengan membuatkan isnad yang kembali pada otoritas lebih tinggi, seperti sahabat dan Nabi saw.
2. Tanda tanda zuhud dalam pandangan ulama adalah menghindarkan hati dari kemasygulan dunia, membersihkan hati dari kecintaan materi, tidak memiliki angan-angan kepadanya, sebagai upaya membangun keyakinan dan cinta kepada Allah swt di atas segalanya.
3. Hakekat zuhud yang tertuang secara eksplisit (bi al-ma’na) dalam teks-teks (matan) hadits adalah kemampuan mengelola hidup dalam mengkomunikasikan dimensi batin dengan aspek materi, sehingga bisa menyatu dalam satu ruang iman, dan kemudian memproduksinya menjadi keshalehan.

B. Implikasi
Pada dasarnya Islam adalah agama yang komprehensif dan integral, serta realistis, sehingga tidak menjadikan ‘uzlah (menjauhkan) atau ketakutan terhadap dunia dan materi sebagai sarana membangun ibadah kepada Allah swt. Itulah sebabnya Al-Quran dan hadits-hadits Nabi saw. berbicara tentang dunia dalam dua dimensi, sebagai permaian dan tipuan, dan sebagai aspek yang harus dikelola dan dikembangkan.

DAFTAR PUSTAKA

Al-‘Asqalany, Ahmad bin ‘Ali bin Hajar,Taqrib al-Tahzib, Dar al-‘Ashimah, tk, tt
Al-Baihaqy, Bakar Ahmad bin Husain, Kitab al-Zuhd al-Kabir, Libnan, Dar al-Janan, , 1987.
Al-Buga, Musthafa dan Muhyiddin Misthu, Al-Wafi fi Syarh al-Arba’in al-Nawawiyah, Beirut, Dar Ibnu Katsir, 2008
Al-Suyuthy, Jalaluddin, Shahih Muslim bi al-Syrah Al-Nawawi, Libnan,Dar al-Fikr, 1995
__________, Tadrib al-Rawy fi Syarh Taqrib al-Nawawy, (Libnan, Dar al-Fikr, 1993)
Al-Qatthan, Manna’ Mabahits fi ‘Ulum al-Hadits, Kairo, Maktabah Wahbah, 1992
Hawwa, Sa’id, al-Mustakhlash fi al-Tazkiyat al-Nafs. terj. Aunur Rofieq Shaleh, Mensucikan Jiwa: Konsep Tazkiyatun-Nafs Terpadu, Jakarta, Robbani Press, 2001
Ibnu Munzir, Jamaluddin Muhammad bin Makram, Lisan al-‘Arab, Beirut, Dar al-Sadr
Masrur, Ali, Teori Common Link GHA Juynboll; Melacak Akar Kesejarahan Hadits Nabi, Yokyakarta, LKiS, 2007.
Buku Elektronik, al-Maktabah al-Syamilah

Sabtu, 18 Juli 2009

Abu Bakar As-Shiddiq r.a.

Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amru bin Ka`ab bin Sa`ad bin Taim bin Murrah bin Ka`ab bin Lu`ai bin Ghalib bin Fihr al-Qurasy at-Taimi – radhiyallahu`anhu. Bertemu nasabnya dengan Nabi pada kakeknya Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai. Abu Bakar adalah shahabat Rasulullah – shalallahu`alaihi was salam – yang telah menemani Rasulullah sejak awal diutusnya beliau sebagai Rasul, beliau termasuk orang yang awal masuk Islam. Abu Bakar memiliki julukan “ash-Shiddiq” dan “Atiq”.

Ada yang berkata bahwa Abu Bakar dijuluki “ash-Shiddiq” karena ketika terjadi peristiwa isra` mi`raj, orang-orang mendustakan kejadian tersebut, sedangkan Abu Bakar langsung membenarkan.

Allah telah mempersaksikan persahabatan Rasulullah dengan Abu Bakar dalam Al-Qur`an, yaitu dalam firman-Nya : “…sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada sahabatnya: `Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita’.” (QS at-Taubah : 40)

`Aisyah, Abu Sa’id dan Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat ini mengatakan : “Abu Bakar-lah yang mengiringi Nabi dalam gua tersebut.”

Allah juga berfirman : “Dan orang yang membawa kebenaran dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (az-Zumar : 33)

Al-Imam adz-Dzahabi setelah membawakan ayat ini dalam kitabnya al-Kabaa`ir, beliau meriwayatkan bahwa Ja`far Shadiq berujar :”Tidak ada perselisihan lagi bahwa orang yang datang dengan membawa kebenaran adalah Rasulullah, sedangkan yang membenarkannya adalah Abu Bakar. Masih adakah keistimeaan yang melebihi keistimeaannya di tengah-tengah para Shahabat?”

Dari Amru bin al-Ash radhiyallahu`anhu, bahwa Rasulullah mengutusnya atas pasukan Dzatus Salasil : “Aku lalu mendatangi beliau dan bertanya “Siapa manusia yang paling engkau cintai?” beliau bersabda :”Aisyah” aku berkata : “kalau dari lelaki?” beliau menjawab : “ayahnya (Abu Bakar)” aku berkata : “lalu siapa?” beliau menjawab: “Umar” lalu menyebutkan beberapa orang lelaki.” (HR.Bukhari dan Muslim)

“Sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai kekasih-Nya, sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. Dan kalau saja aku mengambil dari umatku sebagai kekasih, akan aku jadikan Abu Bakar sebagai kekasih.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Sa`id radhiyallahu`anhu, bahwa Rasulullah duduk di mimbar, lalu bersabda :”Sesungguhnya ada seorang hamba yang diberi pilihan oleh Allah, antara diberi kemewahan dunia dengan apa yang di sisi-Nya. Maka hamba itu memilih apa yang di sisi-Nya” lalu Abu bakar menangis dan menangis, lalu berkata :”ayah dan ibu kami sebagai tebusanmu” Abu Sa`id berkata : “yang dimaksud hamba tersebut adalah Rasulullah, dan Abu Bakar adalah orang yang paling tahu diantara kami” Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling banyak memberikan perlindungan kepadaku dengan harta dan persahabatannya adalah Abu Bakar. Andaikan aku boleh mengambil seorang kekasih (dalam riwayat lain ada tambahan : “selain rabb-ku”), niscaya aku akan mengambil Abu Bakar sebagai kekasihku. Tetapi ini adalah persaudaraan dalam Islam. Tidak ada di dalam masjid sebuah pintu kecuali telah ditutup, melainkan hanya pintu Abu Bakar saja (yang masih terbuka).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya Allah telah mengutusku kepada kalian semua. Namun kalian malah berkata `kamu adalah pendusta’. Sedangkan Abu Bakar membenarkan (ajaranku). Dia telah membantuku dengan jiwa dan hartanya. Apakah kalian akan meninggalkan aku (dengan meninggalkan) shahabatku?” Rasulullah mengucapkan kalimat itu 2 kali. Sejak itu Abu bakar tidak pernah disakiti (oleh seorangpun dari kaum muslimin). (HR. Bukhari)

Masa Kekhalifahan

Dalam riwayat al-Bukhari diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu`anha, bahwa ketika Rasulullah wafat, Abu Bakar datang dengan menunggang kuda dari rumah beliau yang berada di daerah Sunh. Beliau turun dari hewan tunggangannya itu kemudian masuk ke masjid. Beliau tidak mengajak seorang pun untuk berbicara sampai akhirnya masuk ke dalam rumah Aisyah. Abu Bakar menyingkap wajah Rasulullah yang ditutupi dengan kain kemudian mengecup keningnya. Abu Bakar pun menangis kemudian berkata : “demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, Allah tidak akan menghimpun dua kematian pada dirimu. Adapun kematian yang telah ditetapkan pada dirimu, berarti engkau memang sudah meninggal.”Kemudian Abu Bakar keluar dan Umar sedang berbicara dihadapan orang-orang. Maka Abu Bakar berkata : “duduklah wahai Umar!” Namun Umar enggan untuk duduk. Maka orang-orang menghampiri Abu Bakar dan meninggalkan Umar. Abu Bakar berkata : “Amma bad`du, barang siapa diantara kalian ada yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah mati. Kalau kalian menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati. Allah telah berfirman :

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS Ali Imran : 144)

Ibnu Abbas radhiyallahu`anhuma berkata : “demi Allah, seakan-akan orang-orang tidak mengetahui bahwa Allah telah menurunkan ayat ini sampai Abu Bakar membacakannya. Maka semua orang menerima ayat Al-Qur`an itu, tak seorangpun diantara mereka yang mendengarnya melainkan melantunkannya.”

Sa`id bin Musayyab rahimahullah berkata : bahwa Umar ketika itu berkata : “Demi Allah, sepertinya aku baru mendengar ayat itu ketika dibaca oleh Abu Bakar, sampai-sampai aku tak kuasa mengangkat kedua kakiku, hingga aku tertunduk ke tanah ketika aku mendengar Abu Bakar membacanya. Kini aku sudah tahu bahwa nabi memang sudah meninggal.”

Dalam riwayat al-Bukhari lainnya, Umar berkata : “maka orang-orang menabahkan hati mereka sambil tetap mengucurkan air mata. Lalu orang-orang Anshor berkumpul di sekitar Sa`ad bin Ubadah yang berada di Saqifah Bani Sa`idah” mereka berkata : “Dari kalangan kami (Anshor) ada pemimpin, demikian pula dari kalangan kalian!” maka Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah bin al-Jarroh mendekati mereka. Umar mulai bicara, namun segera dihentikan Abu Bakar. Dalam hal ini Umar berkata : “Demi Allah, yang kuinginkan sebenarnya hanyalah mengungkapkan hal yang menurutku sangat bagus. Aku khawatir Abu Bakar tidak menyampaikannya” Kemudian Abu Bakar bicara, ternyata dia orang yang terfasih dalam ucapannya, beliau berkata : “Kami adalah pemimpin, sedangkan kalian adalah para menteri.” Habbab bin al-Mundzir menanggapi : “Tidak, demi Allah kami tidak akan melakukannya, dari kami ada pemimpin dan dari kalian juga ada pemimpin.” Abu Bakar menjawab : “Tidak, kami adalah pemimpin, sedangkan kalian adalah para menteri. Mereka (kaum Muhajirin) adalah suku Arab yang paling adil, yang paling mulia dan paling baik nasabnya. Maka baiatlah Umar atau Abu Ubaidah bin al-Jarroh.”Maka Umar menyela : “Bahkan kami akan membai`atmu. Engkau adalah sayyid kami, orang yang terbaik diantara kami dan paling dicintai Rasulullah.” Umar lalu memegang tangan Abu Bakar dan membai`atnya yang kemudian diikuti oleh orang banyak. Lalu ada seorang yang berkata : “kalian telah membunuh (hak khalifah) Sa`ad (bin Ubadah).” Maka Umar berkata : “Allah yang telah membunuhnya.” (Riwayat Bukhari)

Menurut `ulama ahli sejarah, Abu Bakar menerima jasa memerah susu kambing untuk penduduk desa. Ketika beliau telah dibai`at menjadi khalifah, ada seorang wanita desa berkata : “sekarang Abu Bakar tidak akan lagi memerahkan susu kambing kami.” Perkataan itu didengar oleh Abu Bakar sehingga dia berkata : “tidak, bahkan aku akan tetap menerima jasa memerah susu kambing kalian. Sesungguhnya aku berharap dengan jabatan yang telah aku sandang sekarang ini sama sekali tidak merubah kebiasaanku di masa silam.” Terbukti, Abu Bakar tetap memerahkan susu kambing-kambing mereka.

Ketika Abu Bakar diangkat sebagai khalifah, beliau memerintahkan Umar untuk mengurusi urusan haji kaum muslimin. Barulah pada tahun berikutnya Abu Bakar menunaikan haji. Sedangkan untuk ibadah umroh, beliau lakukan pada bulan Rajab tahun 12 H. beliau memasuki kota Makkah sekitar waktu dhuha dan langsung menuju rumahnya. Beliau ditemani oleh beberapa orang pemuda yang sedang berbincang-bincang dengannya. Lalu dikatakan kepada Abu Quhafah (Ayahnya Abu Bakar) : “ini putramu (telah datang)!”

Maka Abu Quhafah berdiri dari tempatnya. Abu Bakar bergegas menyuruh untanya untuk bersimpuh. Beliau turun dari untanya ketika unta itu belum sempat bersimpuh dengan sempurna sambil berkata : “wahai ayahku, janganlah anda berdiri!” Lalu Abu Bakar memeluk Abu Quhafah
dan mengecup keningnya. Tentu saja Abu Quhafah menangis sebagai luapan rasa bahagia dengan kedatangan putranya tersebut.

Setelah itu datanglah beberapa tokoh kota Makkah seperti Attab bin Usaid, Suhail bin Amru, Ikrimah bin Abi Jahal, dan al-Harits bin Hisyam. Mereka semua mengucapkan salam kepada Abu Bakar : “Assalamu`alaika wahai khalifah Rasulullah!” mereka semua menjabat tangan Abu Bakar. Lalu Abu Quhafah berkata : “wahai Atiq (julukan Abu Bakar), mereka itu adalah orang-orang (yang baik). Oleh karena itu, jalinlah persahabatan yang baik dengan mereka!” Abu Bakar berkata : “Wahai ayahku, tidak ada daya dan upaya kecuali hanya dengan pertolongan Allah. Aku telah diberi beban yang sangat berat, tentu saja aku tidak akan memiliki kekuatan untuk menanggungnya kecuali hanya dengan pertolongan Allah.” Lalu Abu Bakar berkata : “Apakah ada orang yang akan mengadukan sebuah perbuatan dzalim?” Ternyata tidak ada seorangpun yang datang kepada Abu Bakar untuk melapor sebuah kedzaliman. Semua orang malah menyanjung pemimpin mereka tersebut.

Wafatnya

Menurut para `ulama ahli sejarah Abu Bakar meninggal dunia pada malam selasa, tepatnya antara waktu maghrib dan isya pada tanggal 8 Jumadil awal 13 H. Usia beliau ketika meninggal dunia adalah 63 tahun. Beliau berwasiat agar jenazahnya dimandikan oleh Asma` binti Umais, istri beliau. Kemudian beliau dimakamkan di samping makam Rasulullah. Umar mensholati jenazahnya diantara makam Nabi dan mimbar (ar-Raudhah). Sedangkan yang turun langsung ke dalam liang lahat adalah putranya yang bernama Abdurrahman (bin Abi Bakar), Umar, Utsman, dan Thalhah bin Ubaidillah.

Sumber :

-Al-Bidayah wan Nihayah, Masa Khulafa’ur Rasyidin Tartib wa Tahdzib Kitab al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir. - Shifatush-Shofwah karya Ibnul Jauzi. Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah -Al-Kabaa`ir karya Adz-Dzahabi.

Rabu, 22 April 2009

أسرار الإيمان


أسرار الإيمان
: بقلم فضيلة الشيخ : عبد الفتاح علام وكيل الأزهر الشريف
الإيمان بالله سر الحياة
إن العمل يترك أثره على من قام به بمجرد أدائه فالله سبحانه سريع الحساب وهذا الأثر غير ظاهر للعين البشرية لكنه سيكون واضحا يوم القيامة عندما تزداد حدة الإبصار للبشر بعد أن يتركوا البيئة الأرضية (لقد كنت في غفلة من هذا فكشفنا عنك غطاءك فبصرك اليوم حديد) ق : 22 وهكذا لم يخلق الله الإنسان ليهمله ولكن يدون كل ما يقوم به وهذا هو أساس الإيمان بالله فمدلول الإيمان هذا هو ما يؤكد عليه القرآن الكريم وأكد عليه النبى صلى الله عليه وسلم فى إتباعه ليحدث التغير في حياتهم لأنه أساس حياة المستقبل حيث الجنة أو النار هما المظهران النهائيان لقانون الخير والشر وإن الحياة على هذه هى مظهر من مظاهر هذا القانون الخير يقود إلى الخير والشر يقود إلى الشر (إن سعيكم لشتى، فأما من أعطى واتقى، وصدق بالحسنى، فسنيسره لليسرى،وأما من بخل واستغنى وكذب بالحسنى فسنيسره للعسرى) ولا ينطبق قانون الخير والشر على الأفراد فقط لكنه ينطبق أيضا على الأمم فكل أمة لها كتاب يضم أفعالها ويتم الحكم عليها فى هذه الحياة طبقا له (وترى كل أمة جاثية كل أمة تدعى إلى كتابها اليوم تجزون ما كنتم تعملون) وقد زادت قوة الإيمان بالله الذى اعتمد على هذه الأسس بالتجارب الروحية للبشرية والتى كانت أكثر الأدلة على وجود الله لقد أظهر الله نفسه لكل الأمم خلال كل العصور وكانت هذه هى القاعدة العريضة لإيمان النبى صلى الله عليه وسلم لقد كان بإمكان الإنسان اكتشاف كل شىء فى المحسات والتغلب على كل قوى الطبيعة لكن الله غير محدود وخارج مجال اكتشافات البشر (لا تدركه الأبصار وهو يدرك الأبصار وهو اللطيف الخبير) لذلك ولأن رحمته بالبشر كبيرة وعظيمة اظهر نفسه للإنسان من خلال عباده المختارين فى كل عصر وفى كل بلد (إنا أوحينا إليك كما أوحينا إلى نوح والنبيين من بعده وأوحينا إلى إبراهيم وإسماعيل وإسحاق ويعقوب والأسباط وعيسى وأيوب ويونس وهارون وسليمان وآتينا داود زبورا) (إنا أرسلناك بالحق بشيراً ونذيراً وإن من أمة إلا خلا فيها نذير) ولم يرسل مصلحين إلا وكانوا بشرا لأنه لابد من بشر حتى يكونوا مثالا وقدوة لبقية البشر (قل لو كان فى الأرض ملائكة يمشون مطمئنين لنزلنا عليهم من السماء ملكاً رسولا) لقد تجلى الله لكل الأمم فكان الوحى الإلهى حقيقة كونية وبينما كان الوحى فى أعلى مراتبه من خلال روح القدس مقصوراً على الأنبياء فإنه فى أدنى مراتبه فى صورة فكرة تطرأ على الذهن أو رؤية أو إلهام ينزل على الآخرين أيضا رجالا ونساء (وما كان لبشر أن يكلمه الله إلا وحياً أو من وراء حجاب أو يرسل رسولا فيوحى بإذنه ما يشاء إنه علي حكيم

Minggu, 15 Maret 2009

IA Yang Menolak Menjadi Pemimpin

Ketika IA dilantik menjadi khalifah setelah meninggalnya Sulaeman bin Abdul Malik, padahal IA sesungguhnya tidak menghendaki jabatan khalifah tersebut. Kaum Muslimin memintanya untuk menjadi Imam shalat. Usai menunaikan shalat, IA berdiri untuk menyampaikan khutbah. “Kaum Muslimin aku telah diberi cobaan dengan jabatan khalifah ini tanpa aku dimintai pendapat, dimohon, serta tanpa musyawarah dari kaum muslimin seluruhnya. Sekarang aku kembalikan jabatan ini kepada kalian, dan pilihlah khalifah sesuka anda!”.
Namun kaum muslimin dengan serempak menjawab, “kami telah memilih dan menerimamu dengan ikhlas, ya amirul mukminin kami telah mengangkat sumpah dan semoga engkau diberkahi”
IA mulai memberikan arahan dan nasehat untuk meningkatkan taqwa dan bersikap zuhud dalam hal keduniawian serta memberikan iming-iming tentang pahala akhirat kelak. Inilah ucannya,
“Kaum muslimin, barang siapa yang taat kepada Allah, berarti kita wajib menaatinya,
dan barang siapa yang berbuat maksiat terhadap Allah,
berarti tidak satu pun orang yang boleh menaatinya.
Kaum Muslimin, taatilah perintahku selama aku taat kepada Allah.
Jika aku tidak taat kepada Allah, maka kalian tidak perlu menaatiku”.

Setelah menyampaikan khutbahnya, IA turun dari mimbar, pulang ke rumah menuju ke tempat tidurnya.
Belum sempat IA merebahkan badan, anaknya Abdul Malik yang saat itu berusia tujuh belas tahun menghampiri ayahandanya seraya berkata, “apa yang akan kau lakukan, amirul mukminin?!”

IA menjawab, “Aku ingin memejamkan kedua mataku sebentar saja. aku sudah tidak berdaya lagi!”

Anaknya berkata, “apakah enkau akan memejamkan mata sebelum menyelamatkan orang-orang yang terdzalimi dan mengembalikan mereka kepada keluarga mereka, wahai amirul mukminin!”

IA menjawab, “Anakku, kemarin malam aku tidak tidur di rumah pamanmu, Sulaeman. Saat zuhur tiba nanti aku akan shalat berjamaah bersama kuam muslimin dan aku akan lepaskan orang-orang terdzalimi kepada keluarga mereka, insyaallah!”

Anaknya berkata, “memangnya engkau ini siapa hingga tahu akan hidup sampai waktu dzuhur nanti?”
IA pun memeluk dan mendekap anaknya lalu berkata, “segala puji bagi Allah yang telah melahirkan seorang anak dari tulang belakang yang mengukuhkan agamaku” Namanya aku tidak sanggup sebutkan, karena begitu mulia bagiku. Subhanallah

Sabtu, 07 Maret 2009

Islam Dan Kebangkitan Ilmu Pengetahuan

Ketika Jepang dibom atom oleh Amerika pada perang dunia II, negara Sakura mengalami kehancuran total. Pada saat itu kaisar bertanya, “apakah masih ada guru yang hidup?”. Sebuah kesadaran dari seorang pemimpin bahwa kebangkitan kembali dari kehancuran terletak di tangan guru. Untuk menata kembali kepingan-kepingan peradaban yang rusak menuju kejayaannya hanya akan mampu dilakukan melalui sentuhan tangan-tangan mulia para guru, pendidik, pemberi ilmu, para murabbi.
Kesadaran seorang kaisar akan arti penting seorang guru pemberi ilmu dan keutamaan ilmu pengetahuan, hanyalah sepenggal dari kisah kesempurnaan peradaban ummat manusia sepanjang zamannya. Seribu tahun lebih yang telah lalu, sebuah risalah kenabian terakhir hadir di muka bumi yang membawa ajaran perbaikan, dan cahaya keselamatan. Dan ternyata amanat risalah suci yang pertama itu adalah perintah untuk membaca. Bahkan perintah untuk membaca diulang dua kali. Menurut ulama tafsir adanya tikrar (pengulangan) pada kata iqra’ (bacalah) menunjukkan urgennya perintah tersebut.
Membaca merupakan salah satu jalan utama untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Sebabnya Islam sangat menekankan keutamaan ilmu dan pentingnya memiliki ilmu pengetahuan. Karena untuk bisa menjalankan syariat Islam dengan baik, wajib adanya pengetahuan di dalamnya. Islam tidak memberikan ruang toleransi kepada siapa pun untuk menjalankan syariat dalam keadaan buta ilmu, bodoh, dan tanpa pemahaman (sufaha atau jahiliyah). Itulah sebabnya agenda pertama kehadiran Islam adalah melawan kebodohan (jahiliyah) ummat, terutama kebodohan dalam akidah atau iman.

Penghargaan Tuhan Kepada Ilmu dan Orang Berilmu
Sesungguhnya Islam adalah agama yang menghargai ilmu pengetahuan. Agama yang menjadikan ilmu sebagai kemutlakan dalam ibadah dan taqarrub kepada Allah swt. Dalam Al-Quran Allah swt menggambarkan dengan firmanNya yang agung keutamaan-keutamaan ilmu dan orang berilmu.
Allah swt menghargai orang-orang yang berilmu dibanding orang-orang awam. Perhatikanlah firman Allah swt dalam surat al-Mujadalah : 11, Allah memberikan penghargaan kepada orang berilmu dengan mengangkat derajatnya hingga beberapa derajad yang tidak terbatas.
َيرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
(سورة المجادلة :11)
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajad.” (Al Mujadilah: 11)

Pada surat Ali ‘Imran: 18, Allah SWT bahkan menghargai orang-orang yang berilmu dengan memulai dengan diriNya, lalu dengan MalaikatNya, dan kemudian dengan orang-orang yang berilmu. Jelas ini adalah keutamaan, ini adalah kemuliaan. Kemuliaan dari Yang Maha Mulia.
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
(سورة آل عمران:28)
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu)...”
(Ali Imran:18)

Allah swt juga menyatakan bahwa hanya dengan ilmu orang bisa memahami perumpamaan yang diberikan Allah untuk manusia. dengan ilmu pulalah orang bisa mendapat petunjuk Al Qur’an.
وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُون... بَلْ هُوَ آَيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْم وَمَا يَجْحَدُ بِآَيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُون (سورة العنكبوت :43 و 49)
“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia, dan tiada memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu”) (Al Ankabut:43)... “Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu dan tiadalah yang ingkar kepada ayat-ayat kami selain orang-orang dzalim.”(Al Ankabut:49).

Pada ayat lain, Allah swt berfirman dengan bahasa retorik (pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban) menggambarkan perbedaan yang jelas antara orang yang memiliki pengetahuan dan yang tidak memiliki pengetahuan
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ (سورة الزمر : 9)
Katakan, apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu? Sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang akan menerima pelajaran
(Q.S. Az-zumar : 9(

Apakah sama kepribadiannya, akhlaqnya, keshalehannya, bahkan imannya orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Tentu jawabannya, “Tidak”. Kenapa tidak sama? Karena ilmu melahirkan banyak hikmah-hikmah dan menyimpan banyak keutamaan. Hanya orang yang belajar dan menuntut ilmulah yang akan menemukan hikmah dan meraih keutamaan itu. Pintu keutamaan itu tidak akan pernah diketuk oleh kemalasan, dan tidak akan pernah dibuka dengan kebodohan.
Allah swt juga memberikan garansi ketaatan dan ketundukan kepada Allah dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, serta takut kepada Tuhannya hanya kepada orang-orang yang berilmu
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ (سورة فاطر :28)
Sesungguhnya dari hamba-hamba Allah yang takut kepadaNya hanyalah ulama (orang yang berilmu) sesungguhnya Allah Maha Perkasa dan Maha Pengampun(Q.S. Fathir : 28)

Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini, sesungguhnya yang takut kepada Allah swt dengan sebenar-benarnya adalah ulama yang mengenal-Nya, yang karena pengetahuannya kepada Allah telah sempurna, ketakutan kepadaNya sangat besar.
Menurut Ibnu Abbas, yang dimaksud dengan ulama dalam ayat ini adalah mereka yang mengetahui bahwa Allah swt Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan yang mengenal Allah swt di antara hamba-hamba-Nya adalah yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, menghalalkan apa saja yang Dia halalkan, mengharamkan apa saja yang diharamkan, menjaga wasiat-wasiat-Nya, serta meyakini bahwa ia akan menghadap kepada-Nya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatan.
Rasulullah saw menjadikan belajar dan menuntut ilmu sebagai keniscayaan hidup. Keluar dari kungkungan kebodohan adalah keharusan yang tidak bisa ditawar. Tidak ada kata izin, atau halangan untuk tidak belajar dan menuntut ilmu sebagaimana sabdanya ; tuntutlah ilmu dari ayunan hingga liang lahad. Rasulullah saw dengan pembenaran Al-Quran telah mewajibkan kepada seluruh ummatnya untuk menuntut ilmu dan menetapkannya sebagai ciri dari keislaman seseorang,
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِم
Dari Anas bin Malik r.a. berkata; Rasulullah saw bersabda : Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. H.R. Ibnu Majah

Tidak ada kata penghalang dalam belajar, tidak ada batasan umur, sekali lagi menuntut ilmu tidak dibatasi oleh jarak, ataupun tempat. Rasulullah saw menyeruh ummat untuk menuntuk ilmu ke negeri yang terjauh sekalipun “Tuntutlah ilmu walaupun ke negeri Cina”. Karena ilmu adalah mutiara kaum muslimin yang hilang, maka dimanapun bisa ditemukan, maka harus diambil.
Keutamaan orang berilmu digambarkan Rasulullah saw dalam salah satu hadits berikut ;
عَنْ أَبَي الدَّرْدَاءِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِر (رواه ابو داود والترميذي)
Dari Abu Darda r.a. berkata: aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “siapa yang mengikuti jalan menuntut ilmu, maka Allah menuntunnya jalan menuju syurga. Sesungguhnya Malaikat meletakkan sayap-sayapnya sebagai keridhaan kepada orang yang menuntut ilmu. Dan sesungguhnya orang alim akan dimohonkan ampun oleh siapa yang ada di langit dan di bumi dan ikan-ikan yang ada di dasar air. Sesungguhnya keutamaan orang berilmu dari ahli ibadah seperti keutamaan bulan di malam purnama dari seluruh bintang-bintang, ulama adalah pewaris para Nabi, dan para Nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham, tetapi mewariskan ilmu, maka siapa yang mengambilnya, sungguh dia telah mengambil dengan porsi yang banyak. H.R. Abu Daud dan At-Tirmizi

Pilihan antara Ilmu dan Harta
Ketika Nabi Sulaeman a.s. ditawari Allah swt tiga hal; harta, kekuasaan, dan ilmu beliau memilih ilmu pengetahuan. Pilihan itu mungkin tidak populis kalau kita menggunakan ukuran manusia sekarang, karena merupakan pilihan yang merugikan. Realitas masyarakat sekarang ini kebanyakannya lebih mementingkan harta daripada ilmu pengetahuan. Mereka lebih memilih membeli sawah dan kebun yang luas, menyediakan modal untuk membeli ruko yang banyak, daripada memberikan modal kepada anak-anaknya untuk pendidikannya. Banyak yang tidak sekolah bukan karena tidak punya uang untuk membayar sekolahnya, tetapi karena orangtuanya lebih memilih untuk mewariskan harta dari pada ilmu. Tetapi pilihan Nabi Sulaeman adalah pilihan cerdas dan terbaik. Dengan ilmunya ia memperoleh kekuasaan dan limpahan harta yang tiada samanya baik sebelum maupun setelahnya.
Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya. ya Ali! lebih utama mana antara ilmu dengan harta?” Ali menjawab, “Ilmu lebih utama daripada harta. Ali kemudian memberikan sepuluh alasannya ;
1. Ilmu warisan para Nabi, sedang harta adalah warisan Qarun, Syidad dan Fir’aun.”
2. Ilmu bisa merawat dirimu. Sedang harta, kamulah yang merawatnya.”
3. Orang yang miliki harta cenderung mendapat banyak musuh. Sedang orang berilmu punya banyak teman.”
4. Harta ketika digunakan akan berkurang. Sedang ilmu semakin banyak digunakan semakin bertambah.”
5. Orang berharta biasa diberi gelar si Bakhil. Sedang orang berilmu selalu diberi gelargelar yang mulia dan terhormat.”
6. Harta benda harus dijaga dari pencuri. Sedang ilmu tidak perlu dijaga dari pencuri.”
7. Di hari kiamat nanti orang berharta dihisab sebab hartanya. Sedang orang berilmu kelak di hari kiamat dapat syafa’at sebab ilmunya.”
8. Seiring waktu berjalan, harta semakin lama kian habis dan rusak. Sedang ilmu, takkan bisa habis maupun rusak.”
9. Harta bisa mengeraskan dan menggelapkan hati. Sedang ilmu menerangi hati.”
10. Orang berharta biasa dikatakan sombong sebab kekayaannya. Sedang orang berilmu biasa disebut orang tawadhu’, rendah hati, sebab ilmunya,
Ali lanjutkan, Selama hayat masih di kandung badan, andai kalian semua bertanya padaku tentang masalah ini. Pasti kujawab dengan uraian jawaban berbeda-beda. Ali bin Abi Thalib memang salah seorang cerdik pandai dari sahabat-sahabat Rasulullah saw. Beliau sangat memahami peranan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manus, di dunia maupun di akhirat. Dalam satu atsarnya beliau katakan, “siapa yang menginginkan dunia maka hendaklah dengan ilmu, siapa yang menginginkan akhirat hendaklah dengan ilmu, dan siapa menginginkan keduanya hendaklah dengan ilmu”


Peradaban Besar Berdiri di atas Kegemilangan Ilmu Pengetahuan
Kebenaran al-Quran dan hadits adalah kebenaran pasti dan niscya yang tidak bisa ditawar. Kebenaran itulaha kemudian menjadi spirit ummat Islam untuk menggali ilmu pengetahuan. Mereka adalah ummat yang haus dan tamak dengan ilmu. Mereka menjadi ummat pembelajar. Penggalian ilmu pengetahuan menjadi tradisi ummat Islam, baik ilmu-ilmu keagamaan maupun ilmu profan, bahkan filsafat. Mereka rela menjual segala harta bendanya untuk mendanai rihlah (pengembaraannya) menuntut ilmu. Bahkan di antara ulama ada yang rela tidak menikah karena khusyuk belajar dan berkarya. Kebangkitan peradaban Islam akhirnya tidak bisa terbendung. Ia lahir dan mencuak menjadi peradaban baru yang meneguasai tiga benua; Asia, Afrika, dan sebagian benua Eropa. Ummat Islam telah menikmati kejayaannya pada saat Eropa masih berkutat dengan keterbelakangan dan kebodohannya.
Karya-karya ummat Islam diberbagai bidang ilmu pengetahuan tumbuh subur. Pada tahun 800 pabrik kertas pertama berhasil didirikan di Baghdad. Perpustakaan pun bermunculan di hampir seluruh negeri Arab (baca: Islam) yang dulu dikenal sebagai bangsa nomad yang buta huruf dan cuma bisa mengangon kambing. Direktur observatorium Maragha, Nasiruddin At Tousi memiliki kumpulan buku sejumlah 400.000 buah. Di Kordoba (Spanyol) pada abad 10, Khalifah Al Hakim memiliki suatu perpustakaan yang berisi 400.000 buku, sedangkan 4 abad sesudahnya raja Perancis Charles yang bijaksana hanya memiliki koleksi 900 buku. Bahkan Khalifah Al Aziz di Mesir memiliki perpustakaan dengan 1.600.000 buku, di antaranya 16.000 buah tentang matematika dan 18.000 tentang filsafat.
Pada masa awal Islam dibangun badan-badan pendidikan dan penelitian yang terpadu. Observatorium pertama didirikan di Damaskus pada tahun 707 oleh Khalifah Amawi Abdul Malik. Universitas Eropa, 2 atau 3 abad kemudian seperti Universitas Paris dan Univesitas Oxford semuanya didirikan menurut model Islam.
Para ilmuwan Islam seperti Al Khawarizmi memperkenalkan “Angka Arab” (Arabic Numeral) untuk menggantikan sistem bilangan Romawi yang kaku. Bayangkan bagaimana ilmu Matematika atau Akunting bisa berkembang tanpa adanya sistem “Angka Arab” yang diperkenalkan oleh ummat Islam ke Eropa. Kita mungkin bisa menuliskan angka 3 dengan mudah memakai angka Romawi, yaitu “III,” tapi bagaimana dengan angka 879.094.234.453.340 ke dalam angka Romawi?
Selain itu berkat Islam pulalah maka para ilmuwan sekarang bisa menemukan komputer yang menggunakan binary digit (0 dan 1) sebagai basis perhitungannya, Selain itu Al Khawarizmi juga memperkenalkan ilmu Algorithmdan juga Aljabar (Algebra). Omar Khayam menciptakan teori tentang angka-angka “irrational” serta menulis suatu buku sistematik tentang Mu’adalah (equation). Di dalam ilmu Astronomi ummat Islam juga maju. Al Batani menghitung enklinasi ekleptik: 23.35 derajad (pengukuran sekarang 23,27 derajad).
Dunia juga mengenal Ibnu Sina (Avicenna) yang karyanya Al Qanun fit Thibbi diterjemahkan ke bahasa Latin oleh Gerard de Cremone (meninggal tahun 1187), yang sampai zaman Renaissance tetap jadi textbook di fakultas kedokteran Eropa. Ar Razi (Razes) adalah seorang jenius multidisiplin. Dia bukan hanya dokter, tapi juga ahli fisika, filosof, ahli theologi, dan ahli syair. Eropa juga mengenal Ibnu Rusyid (Averroes) yang ahli dalam filsafat.
Maka tidaklah heran jika produser film Robin Hood the Prince of Thieves yang dibintangi Kevin Kostner, menyisipkan adegan keterkejutan Robin Hood dengan kecanggihan teknologi bangsa Moor.
Sayangnya kejayaan ummat Islam di abad pertengahan itu hanyalah masa lalu. Ummat Islam hanya bisa mengenang dan membaca sejarahnya. Hanya bisa berbangga dengan kejayaan pendahulunya. Tetapi belum mampu berbicara banyak dalam pentas dunia. Bahkan ketika ummat Islam mengabaikan perintah Allah yang saru ini (ilmu) ummat Islam terperosok dalam jurang keterbelakangan, dan tidak mampu bangkit dari ketertinggalannya.
Ummat Islam semakin jauh dari ajaran agamanya, semakin jauh dari al-Quran dan hadits Nabi, semakin jauh dari pengamalan para shalafus shaleh, mereka tidak memahami bahwa menuntut ilmu dan menjadi orang berilmu adalah perintah Allah dan perintah Nabi, sebagaimana halnya perintah shalat, sedekah dan yang lainnya.
Maka tidak ada alasan lagi bagi kita semuanya kecuali menggiatkan diri dengan belajar dan menuntut ilmu. Menjadikan masyarata Islam sebagai masyarakat pencinta ilmu dan pembelajar adalah agenda izzah dan proek keshalehan besar yang harus ditunaikan. Karena kebangkitan ummat akan terwujud dengan kebangkitan ilmu pengetahuannya. Wallahu a’lam